WahanaNews.co, Jakarta - Di balik bentang pegunungan yang mengelilingi Kota Salatiga, Jawa Tengah, tumbuh sebuah kisah tentang bagaimana singkong, komoditas yang selama ini identik dengan pangan sederhana, mampu menjelma menjadi produk bernilai tambah yang menembus pasar internasional.
Adalah Argotelo, usaha olahan singkong yang didirikan Toni Anandya pada 2016, yang membuktikan bahwa inovasi dan pemanfaatan teknologi digital dapat mengangkat potensi lokal menjadi produk berdaya saing global.
Baca Juga:
Apel Pemberangkatan Satgas Karhutla Jambi, Plh Dansatgas Tekankan Pencegahan dan Respons Cepat
Nama Argotelo merupakan gabungan dari kata "argo" yang berarti gunung dan "telo" yang berarti singkong. Bagi Toni, nama tersebut mencerminkan harapan agar usahanya dapat tumbuh kokoh layaknya gunung sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
"Kami ingin Argotelo bisa memberikan manfaat kepada masyarakat secara luas, seperti gunung yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya," ujar Toni.
Perjalanan Argotelo tidak dimulai dengan mudah. Berbekal modal terbatas, usaha tersebut hanya mampu memproduksi sekitar 10 kilogram olahan singkong per hari. Saat itu, Toni memasarkan produknya secara langsung dengan berkeliling dari rumah ke rumah menggunakan sepeda motor.
Baca Juga:
Dinas PM-PTSP Fakfak Jemput Bola Terbitkan 130 NIB di Pasar Thumburuni, Dorong Pertumbuhan UMKM
Perubahan mulai terjadi pada 2018 ketika Argotelo memutuskan memperluas pemasaran melalui platform digital. Langkah tersebut menjadi modal penting saat pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun kemudian.
Menurut Toni, keputusan lebih awal memasuki ekosistem digital membuat usahanya lebih siap menghadapi perubahan perilaku konsumen. Saat banyak pelaku usaha baru mulai beradaptasi dengan penjualan daring, Argotelo telah memiliki sistem yang berjalan.
"Pada 2018 kami mulai berjualan secara daring. Ketika pandemi datang, kami sudah lebih siap. Saat ini sekitar 90 persen penjualan berasal dari kanal online," katanya.
Berbekal inovasi, Argotelo kini menghadirkan sekitar 25 varian olahan singkong, mulai dari gemblong lumer, getuk, singkong fla, stik tela-tela, rondo royal, mento, nugget singkong, hingga molen tape.
Pertumbuhan permintaan turut mendorong peningkatan kapasitas produksi. Jika pada awal berdiri hanya memproduksi puluhan kilogram setiap hari, kini Argotelo mampu menghasilkan sekitar 500 ton produk setiap tahun.
Untuk mendukung pengembangan usaha, Argotelo juga telah melengkapi berbagai legalitas, seperti sertifikasi halal, izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta perlindungan hak merek.
Tak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, Argotelo juga berupaya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Saat ini perusahaan mempekerjakan sekitar 35 karyawan, dengan sekitar 80 persen di antaranya berasal dari lingkungan sekitar.
"Kami melibatkan masyarakat sekitar, termasuk karang taruna dan kelompok sadar wisata agar bisa tumbuh dan berdaya bersama Argotelo," ujar Toni.
Komitmen tersebut kemudian berkembang melalui inisiatif Kampung Singkong di Salatiga yang kini mampu memberdayakan sekitar 300 pekerja. Seluruh kebutuhan bahan baku juga dipasok dari sentra-sentra penghasil singkong di sekitar Salatiga sehingga menciptakan rantai ekonomi yang saling menguatkan antara petani dan pelaku usaha.
Selain mengembangkan produk, Argotelo aktif mengikuti berbagai program pembinaan yang diselenggarakan pemerintah, baik di tingkat kota, provinsi, maupun kementerian. Berbagai pelatihan yang diikuti mencakup pengolahan pangan, penerapan standar higienitas, hingga strategi pemasaran melalui media sosial.
Upaya peningkatan kualitas tersebut membawa Argotelo melangkah lebih jauh ke pasar internasional. Pada Oktober 2025, Argotelo mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, pameran perdagangan internasional terbesar di Indonesia, yang mempertemukan pelaku usaha nasional dengan pembeli dari berbagai negara.
Keikutsertaan dalam ajang tersebut membuka peluang kerja sama dengan sejumlah calon pembeli dari luar negeri.
"Kami mengikuti TEI 2025 dan mendapatkan networking dari Australia serta berkenalan dengan calon mitra dari Dubai. Yang terbaru, kami berhasil mengekspor produk ke Australia," kata Toni.
Selain Australia, produk Argotelo kini juga telah menjangkau pasar Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong. Meski demikian, Toni mengaku masih ingin memperluas pasar ekspor dengan mengikuti lebih banyak pameran dagang internasional.
"Kami berharap bisa kembali mengikuti pameran seperti TEI dan mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan buyer dari berbagai negara agar produk olahan singkong Indonesia semakin dikenal di pasar global," ujarnya.
Perjalanan Argotelo menjadi contoh bagaimana inovasi, transformasi digital, serta pemberdayaan masyarakat mampu mengangkat potensi lokal menjadi produk yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi banyak orang.
Dari lereng pegunungan Salatiga, olahan singkong kini membuktikan bahwa produk berbasis kearifan lokal memiliki peluang untuk bersaing di pasar dunia.
[Redaktur: Jupriadi]