Jika kondisi ini berlanjut, Anggawira mengingatkan dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen.
"Yang dikhawatirkan, jika dolar terus naik dan bertahan lama di atas Rp17.000 (per dolar AS), maka dampaknya bisa merembet ke harga barang di tingkat konsumen. Barang impor akan lebih mahal, harga pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai bisa naik, begitu juga elektronik, otomotif, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya. Ini bisa menekan daya beli masyarakat dan akhirnya mempengaruhi penjualan dunia usaha juga," kata Anggawira.
Baca Juga:
Rupiah Babak Belur Tembus 13.000 Per Dollar Singapura, Terendah dalam Sejarah
Ia menegaskan, dunia usaha tidak hanya melihat kondisi ini dari sisi keuntungan eksportir semata, melainkan lebih pada pentingnya stabilitas nilai tukar.
"Karena itu, bagi pengusaha situasi ini tidak bisa hanya dilihat dari sisi eksportir untung atau importir rugi. Yang paling penting adalah menjaga agar volatilitas tidak terlalu liar. Dunia usaha lebih membutuhkan kurs yang stabil daripada kurs yang terlalu berfluktuasi," tegasnya.
Untuk merespons kondisi ini, pelaku usaha mulai melakukan berbagai langkah penyesuaian, mulai dari efisiensi hingga penguatan penggunaan bahan baku lokal.
Baca Juga:
Fenomena Dollar Lari ke Luar Negeri, Menkeu Pastikan Kebijakan Baru Market Based
"Melakukan lindung nilai atau hedging untuk transaksi impor, serta mengurangi ketergantungan terhadap komponen luar negeri. Ini momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat industri domestik," jelas dia.
Di sisi lain, Anggawira juga mendorong pemerintah menjaga stabilitas ekonomi melalui koordinasi kebijakan yang kuat.
"Di sisi pemerintah, penting menjaga koordinasi fiskal dan moneter, memperkuat cadangan devisa, mempercepat repatriasi devisa hasil ekspor, serta menjaga kepercayaan pasar agar rupiah tidak tertekan terlalu dalam. Karena kalau kurs terus melemah, bukan hanya importir yang tertekan, tapi juga inflasi, daya beli, dan iklim investasi secara keseluruhan akan ikut terdampak," katanya.