WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI M. Misbakhun meminta Bank Indonesia (BI) berupaya keras mengembalikan rupiah ke Rp16.000 per dolar AS.
Hal ini disampaikan Misbakhun ketika rapat kerja dengan Gubernur BI Perry Warjiyo beserta jajaran di Gedung DPR/MPR, Jakarta, kemarin (18/5/2026).
Baca Juga:
ReJO: Pesan Presiden Prabowo Dorong Kreatifitas Rakyat Untuk Indonesia Tangguh
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun mengingatkan Bank Indonesia (BI) akan pentingnya menjaga kesepakatan politik terkait asumsi dasar ekonomi makro, khususnya nilai tukar rupiah yang telah disepakati bersama pemerintah dan DPR. Menurutnya, asumsi nilai tukar dalam APBN bukan sekadar angka teknis, melainkan bentuk legitimasi politik yang harus dijaga oleh otoritas moneter.
Ia menilai Bank Indonesia perlu menunjukkan langkah konkret untuk menjaga rupiah tetap bergerak sesuai asumsi yang telah ditetapkan bersama. Sebab hingga saat ini, rata-rata nilai tukar rupiah dinilai belum pernah menyentuh level yang menjadi target dalam asumsi makro tersebut.
"Kesepakatan politik terhadap nilai tukar, rata-ratanya, itu di tahun ini di 16.500 Rupiah. Tolong dijaga dan dihormati bahwa kita saat ini, keputusan politik sebagai kesepakatan itu di 16.500," ujar Misbakhun dalam Rapat Kerja Komisi XI bersama Gubernur Bank Indonesia di Nusantara I Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (19/5/2026).
Baca Juga:
Dolar Tembus Rp17.400/US$, Prabowo Panggil Gubernur BI
Menurut Misbakhun, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi Bank Indonesia, terutama karena saat ini rupiah masih berada di kisaran Rp17 ribu per dolar AS. Ia menilai dibutuhkan upaya luar biasa agar target rata-rata nilai tukar dapat tercapai hingga akhir tahun.
Misbakhun pun khawatir jika rupiah bergerak jauh di atas level asumsinya, maka stabilisasi nilai tukar akan sulit. Sementara itu, transmisi pelemahan nilai tukar akan mempengaruhi berbagai aspek di perekonomian masyarakat, a.l. inflasi, pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Dalam rapat ini, Misbakhun pun menyinggung pengalaman Indonesia saat menghadapi krisis moneter 1998-1999. Dalam pandangannya, rupiah pernah mengalami penguatan signifikan bahkan ketika kondisi fundamental ekonomi nasional berada dalam tekanan berat akibat krisis multidimensi.