WAHANANEWS.CO, Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat terperosok ke titik terendah sejak awal 2022 setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan dirinya nyaman dengan posisi dolar yang melemah.
Komentar itu disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan wartawan di Iowa pada Selasa (27/1/2025) terkait kekhawatirannya atas penurunan nilai mata uang AS.
Baca Juga:
Rupiah Kembali Tertekan ke Rp17.839 per Dolar AS Meski PMI Manufaktur dan Neraca Dagang Menguat
“Tidak, saya pikir itu bagus,” kata Trump.
Trump menilai kondisi dolar yang lebih lemah justru menguntungkan dunia usaha dan mencerminkan kinerja ekonomi yang menurutnya masih solid.
Pernyataan tersebut memperkuat sentimen negatif terhadap dolar yang sebelumnya sudah tertekan akibat kebijakan tarif yang mengguncang pasar global pada tahun lalu.
Baca Juga:
DPR Minta BI Tekan Dolar ke Rp16.000-an, Ini Alasannya!
Kekhawatiran investor asing kian meningkat seiring perubahan kebijakan AS yang dinilai tidak menentu dan berpotensi mendorong arus keluar modal dari Amerika Serikat.
Setelah komentar Trump, indeks Spot Dolar Bloomberg sempat anjlok hingga 1,2% sebelum sedikit stabil dalam perdagangan Asia pada Rabu (28/1/2025).
Trump selama ini kerap menuduh negara lain sengaja melemahkan mata uangnya demi mendongkrak ekspor, sementara Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyinggung perbedaan antara kekuatan dolar dan statusnya sebagai mata uang cadangan global.