WAHANANEWS.CO, Jakarta - Krisis energi global kian nyata setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu jalur distribusi minyak dunia, termasuk di titik vital seperti Selat Hormuz.
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa produksi minyak dunia sangat terkonsentrasi hanya pada segelintir negara utama.
Baca Juga:
Efek Perang Timur Tengah: Asia Serbu Minyak Rusia, Stok Terancam
Pada 2025, lima negara tercatat memproduksi hampir setengah dari total minyak global, dengan Amerika Serikat, Rusia, dan Arab Saudi saja menyumbang sekitar 40 persen pasokan dunia.
Kondisi tersebut membuat pasar energi global sangat rentan terhadap gejolak geopolitik di negara-negara produsen utama.
Dampak krisis ini mulai dirasakan hingga ke Indonesia, di mana pemerintah mengkaji kebijakan efisiensi energi di sektor aparatur sipil negara.
Baca Juga:
Ketua Ikasa "93" Resmikan Masjid Aisyah di Kecamatan Binjai Barat Kota Binjai Sumatera Utara
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menggodok kebijakan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak.
Ia menjelaskan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna terkait efisiensi energi.
“Kebijakan WFH ini merupakan bagian dari upaya efisiensi energi yang ditekankan dalam berbagai aspek kerja pemerintahan,” ujarnya.
Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan produksi minyak mentah global berdasarkan rata-rata Januari hingga November 2025 sebagai data terbaru per Minggu (9/3/2026).
Amerika Serikat menjadi produsen minyak mentah terbesar dunia dengan produksi mencapai 13,58 juta barel per hari.
Posisi berikutnya ditempati Rusia dengan 9,87 juta barel per hari, disusul Arab Saudi dengan 9,51 juta barel per hari.
Ketiga negara tersebut secara kolektif menyumbang sekitar 39 persen dari total produksi minyak mentah global.
Di bawahnya, Kanada memproduksi 4,94 juta barel per hari, diikuti Irak sebesar 4,39 juta barel dan China sebesar 4,34 juta barel per hari.
Iran menempati posisi ketujuh dengan produksi 4,19 juta barel per hari atau sekitar 5 persen dari total global.
Uni Emirat Arab dan Brasil masing-masing menghasilkan 3,82 juta dan 3,75 juta barel per hari, sementara Kuwait melengkapi daftar 10 besar dengan 2,58 juta barel per hari.
Setelah posisi sepuluh besar, tingkat produksi minyak mentah global mengalami penurunan signifikan.
Fakta ini menunjukkan dominasi segelintir negara dalam menentukan arah pasokan energi dunia.
Secara regional, Timur Tengah tetap menjadi kawasan penghasil minyak terbesar dengan kontribusi sekitar 32 persen dari total produksi global pada 2025.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Irak, Iran, Uni Emirat Arab, dan Kuwait menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak dunia.
Namun konflik yang terjadi di Iran pada 2026 telah mengganggu produksi dan distribusi minyak secara signifikan.
Sejumlah fasilitas produksi di kawasan Timur Tengah dilaporkan terdampak hingga mengalami penutupan atau kerusakan.
Bahkan jika konflik berakhir dalam waktu dekat, pemulihan sektor energi diperkirakan membutuhkan waktu lama serta investasi besar.
Ketidakpastian juga masih membayangi jalur perdagangan energi utama seperti Selat Hormuz yang menjadi titik krusial distribusi minyak dunia.
Konsentrasi produksi ini semakin terlihat dari data yang menunjukkan 10 negara teratas menyumbang sekitar 72,2 persen produksi global.
Artinya, seluruh negara produsen lainnya hanya menyumbang kurang dari 28 persen dari total pasokan dunia.
Negara-negara seperti Kazakhstan, Norwegia, Meksiko, Nigeria, Libya, dan Guyana tetap berkontribusi, namun tidak mampu menandingi skala produksi negara utama.
Situasi ini menegaskan bahwa pasar minyak global sangat bergantung pada stabilitas segelintir negara produsen besar.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]