WAHANANEWS.CO, Jakarta — Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, mengajak masyarakat menerapkan konsep penyembelihan hewan kurban berbasis “keramahtamahan” menjelang Hari Raya Idul Adha 2026.
Menurutnya, penyembelihan hewan kurban tidak hanya berfokus pada pemenuhan syariat ibadah, tetapi juga perlu memperhatikan aspek kesejahteraan hewan, lingkungan, kesehatan publik, hingga perlindungan anak-anak.
Baca Juga:
Sejarah Panjang Polda Metro Jaya kepada BKPRMI Jakarta dalam Distribusi Hewan Qurban
Tulus menyebut Kementerian Agama memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional tahun 2026 mencapai Rp26,89 triliun.
Nilai tersebut berasal dari hampir 2 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sekitar 1,59 juta ekor.
Ia mengatakan konsep keramahtamahan dalam penyembelihan kurban harus dimulai sejak proses pemeliharaan hewan hingga distribusi daging kepada masyarakat.
Baca Juga:
Tewas Saat Sembelih Sapi Kurban, Detik-detik Terakhir H. Cholid Bikin Merinding
“Ramah terhadap hewan kurban bukan hanya saat proses penyembelihan, tetapi juga sejak pemeliharaan dengan memperhatikan prinsip animal welfare atau kesejahteraan hewan,” kata Tulus melalui keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).
Ia juga mendorong agar proses penyembelihan dilakukan oleh juru sembelih halal atau juleha agar sesuai standar syariat dan perlakuan terhadap hewan tetap terjaga.
Selain itu, Tulus mengingatkan masyarakat untuk tidak membuang limbah penyembelihan seperti darah dan kotoran hewan ke sungai karena berpotensi mencemari lingkungan dan memicu penyebaran penyakit.
Menurutnya, pembagian daging kurban juga sebaiknya menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti daun pisang atau daun jati guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Kalau memang harus menggunakan plastik, gunakan plastik food grade dan biodegradable agar tidak menjadi polutan lingkungan,” ujarnya.
FKBI juga menyoroti pentingnya menjaga area penyembelihan tetap higienis dan bebas asap rokok demi melindungi kesehatan masyarakat.
Tulus meminta lokasi penyembelihan dan pengolahan daging kurban dijadikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) agar daging tidak terkontaminasi asap rokok.
Selain itu, ia menilai anak-anak perlu dijauhkan dari proses penyembelihan hewan kurban untuk menghindari dampak psikologis akibat paparan adegan penyembelihan secara langsung.
“Jangan sampai aksi penyembelihan hewan kurban memicu nuansa sadisme bagi anak-anak,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat dapat menjadikan momentum Idul Adha sebagai bentuk ibadah yang tidak hanya memenuhi aspek religius, tetapi juga memperhatikan nilai kemanusiaan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]