"Alasannya karena harga minyak akan 200 dolar per barrel, rupiah akan berapa puluh ribu, ya kalau itu ya iya kalau harga minyak 200 dolar per barrel semua dunia resesi, tenang saja, enggak usah pusing," kata Purbaya.
"Jadi asumsinya nggak masuk akal. Jadi itu bukan ekonom yang betul," tegasnya.
Baca Juga:
Drama Global: Trump Ngamuk, Sekutu Kompak Menjauh dari Perang Iran
Purbaya mengatakan bila ekonom itu memperhitungkan faktor risiko secara benar, maka akan mempertimbangkan seluruh estimasi risiko, mulai dari data historis, hingga kebijakan pemerintah yang selama ini telah dibuat dalam merespons tekanan global.
"Jadi itu hitungannya. Kalau ekonom itu seperti itu, jangan asbun. Kalau enggak ngerti, sekolah lagi, apalagi yang profesor itu, enggak pernah sekolah kok," ungkapnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.