“Peralihan ke sistem PLTS akan mengubah struktur biaya elektrifikasi di pulau-pulau terpencil, dibanding harus mengimpor bahan bakar dan menghadapi logistik kompleks, Indonesia dapat memanfaatkan sinar matahari yang melimpah, menyimpannya secara lokal, dan mendistribusikannya secara andal selama lebih dari satu dekade,” kata Research & Engagement Lead IEEFA Mutya Yustika, Kamis (2/4/2026).
IEEFA juga memperkirakan konversi PLTD ke PLTS dapat menghemat sekitar 2 miliar dolar AS dari pengurangan impor bahan bakar diesel.
Baca Juga:
DPR Pastikan Stok BBM Aman, Harga Dipastikan Tak Naik
Selain itu, langkah tersebut diproyeksikan mampu memangkas subsidi listrik sebesar 1,5 hingga 2 miliar dolar AS per tahun atau sekitar 15 sampai 18 persen dari total subsidi dan kompensasi listrik kepada PT PLN (Persero) yang mencapai 11 miliar dolar AS pada 2024.
Meski menawarkan manfaat ekonomi yang besar, implementasi program ini disebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian regulasi hingga proses pengadaan yang belum optimal.
IEEFA menyoroti pentingnya kejelasan skema tarif listrik untuk proyek PLTS dan BESS agar dapat menarik investasi swasta.
Baca Juga:
Tarif Listrik April–Juni 2026 Tidak Naik, Ini Alasan Pemerintah
Tanpa kepastian tarif yang transparan dan bankable, proses penandatanganan perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement berpotensi terhambat.
Kebutuhan investasi awal yang besar, yakni mencapai 15 hingga 19,5 miliar dolar AS, juga menjadi tantangan tersendiri dalam realisasi proyek ini.
Selain itu, kenaikan suku bunga global turut meningkatkan biaya pembiayaan proyek, khususnya untuk sistem skala kecil di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan ekonomi.