WahanaNews.co, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus memperkuat daya saing industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional di tengah tekanan global yang kian dinamis. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan pameran Indo Intertex – Inatex 2026 yang menjadi ruang strategis bagi pelaku industri untuk memperluas jaringan bisnis, mendorong investasi, serta mengadopsi teknologi terkini.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan mencapai 5,11 persen sepanjang 2025.
Baca Juga:
Berkedok Ruko Mafia Minyak Ilegal Bebas Jual Beli Minyak BBM Subdisdi Hasil Langsiran dari SPBU Kota Jambi
Ia menegaskan, sektor industri pengolahan justru tumbuh lebih tinggi, yakni sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir.
“Capaian ini menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional,” ujar Agus saat membuka Indo Intertex – Inatex 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).
Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tercatat sebesar 19,07 persen. Sektor ini juga mendominasi ekspor nasional dengan porsi mencapai 84,89 persen dari total nilai ekspor, serta menyerap tenaga kerja hingga 20,31 juta orang.
Baca Juga:
Gudang penampungan Minyak Ilegal Berkedok cucian Mobil. siapa D.S pemain besar BBM ilegal di kota jambi
Di tengah ketidakpastian global, kinerja industri manufaktur tetap menunjukkan ketahanan. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Maret 2026 yang berada di level 51,86 atau masih dalam fase ekspansi.
Secara khusus, industri TPT mencatat pertumbuhan sebesar 3,55 persen (year-on-year) sepanjang 2025. Nilai ekspor sektor ini mencapai 12,08 miliar dollar AS dengan surplus sebesar 3,45 miliar dollar AS, yang terutama didorong oleh ekspor pakaian jadi.
Dari sisi investasi, industri TPT mampu menarik dana sebesar Rp20,23 triliun. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja sebanyak 3,96 juta orang atau sekitar 19,48 persen dari total tenaga kerja di sektor industri pengolahan.