Produsen mobil listrik baru dinilai memiliki siklus pengembangan produk yang lebih cepat serta keunggulan pada teknologi kendaraan berbasis perangkat lunak atau software-defined vehicle (SDV), termasuk sistem bantuan pengemudi canggih atau advanced driver assistance system (ADAS).
Dalam kondisi persaingan seperti itu, Honda dinilai belum mampu menghadirkan produk dengan nilai yang lebih kompetitif dibanding para produsen mobil listrik baru.
Baca Juga:
Honda Digugat di Amerika Serikat Terkait Masalah Mesin Bensin Empat Silinder
“Keputusan Honda menghentikan pengembangan beberapa model EV menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak semudah yang dibayangkan karena sangat dipengaruhi dinamika pasar, teknologi, serta kebijakan pemerintah di berbagai negara,” ujar pengamat ekonomi dan sosial Universitas Padjajaran, Domy Sokara.
Untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan, Honda akhirnya memutuskan menghentikan pengembangan tiga model kendaraan listrik yang sebelumnya direncanakan diproduksi di Amerika Utara, yakni Honda 0 SUV, Honda 0 Saloon, dan Acura RSX.
Langkah tersebut diambil karena memulai produksi dan penjualan ketiga model itu dalam situasi permintaan kendaraan listrik yang sedang melambat dinilai berisiko menimbulkan kerugian lebih besar dalam jangka panjang.
Baca Juga:
PT CDN Kepri Tawarkan Program Menarik untuk New Honda PCX160
Sebagai konsekuensi dari keputusan tersebut, Honda memperkirakan akan mencatat kerugian berupa penghapusan dan penyusutan aset berwujud maupun tidak berwujud yang sebelumnya dialokasikan untuk proyek produksi ketiga kendaraan listrik tersebut.
Selain itu, perusahaan juga harus menanggung berbagai biaya tambahan akibat pembatalan pengembangan serta rencana penjualan kendaraan tersebut.
“Ini juga mencerminkan adanya fase koreksi dalam industri otomotif global, di mana produsen mulai lebih realistis menyesuaikan investasi dengan permintaan pasar agar tidak menanggung risiko finansial yang terlalu besar,” kata Domy.