WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sepinya penumpang kini berbalik menjadi tekanan finansial serius bagi Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati setelah tumpukan utang membengkak sementara pendapatan tak sanggup menutup biaya operasional.
Kondisi tersebut tercermin dari data Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang mencatat total liabilitas jangka pendek Bandara Kertajati mencapai Rp474 miliar dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp1,5 triliun per Desember 2025.
Baca Juga:
Antar Logistik ke Lokasi Bencana Aceh, TNI AU Kerahkan Pesawat A400M
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengakui bandara yang dibangun dengan biaya lebih dari Rp2 triliun itu mengalami ketidakseimbangan permintaan atau demand ecosystem mismatch.
Untuk merespons situasi tersebut, Pemprov Jabar menyiapkan agenda transformasi guna mengatasi rendahnya load factor sekaligus meringankan beban keuangan perusahaan.
“Selain itu, populasi pesawat yang beroperasi di Indonesia menurun drastis pasca-pandemi, sehingga diperlukan diversifikasi bisnis seperti industri MRO [Maintenance, Repair, and Overhaul], dan logistik untuk bertahan,” jelas Pemprov Jabar dalam keterangan resmi, Minggu (25/1/2026).
Baca Juga:
Investor Global Masuk Kertajati, MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong BUMN Turut Percepat Ekonomi Rebana
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Bandara Kertajati saat ini hanya melayani empat rute penerbangan yang dioperasikan oleh maskapai Super Air Jet dan Citilink.
Pada Selasa (11/2/2026), Wings Air dijadwalkan membuka rute baru Bandung–Yogyakarta pulang pergi dengan frekuensi penerbangan setiap hari.
Rencana pemulihan bisnis tahun 2026 disusun dengan bertumpu pada tiga pilar utama yaitu optimalisasi penerbangan haji, umrah, dan reguler, penyelesaian kewajiban utang melalui restrukturisasi dan konversi saham, serta pengembangan kawasan Aerospace Park.