WAHANANEWS.CO, Jakarta - Harga minyak mentah dunia diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan signifikan pada pekan depan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas menjadi faktor utama pendorong lonjakan harga, ditambah dengan terbatasnya akses jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang memperburuk distribusi energi global.
Baca Juga:
Kementerian ESDM Ungkap Harga Minyak Mentah RI Turun di Bulan Juni
Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan bahwa tren kenaikan harga minyak masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
"Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada pekan depan diperkirakan bergerak di rentang USD92,3-USD112,2 per barel," kata Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Minggu, 29 Maret 2026.
Sedangkan harga minyak Brent diperkirakan bergerak di rentang USD110-USD116 per barel.
Baca Juga:
Realisasi Subsidi Energi Tembus Rp157 Triliun, Tertinggi Sejak 2015
Ia bahkan memperkirakan bahwa harga minyak jenis Brent berpotensi menembus level yang lebih tinggi pada pekan berikutnya, bahkan bisa mencapai USD125 per barel.
Saat ini saja, harga Brent telah melampaui USD112 per barel, sementara WTI terus mendekati angka psikologis USD100 per barel.
Di sisi lain, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah saat ini berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS dan cenderung melemah mendekati level Rp17.000.
"Kemungkinan besar, rupiah akan menuju Rp17.100 per dolar AS pada pekan depan. Indeks dolar cenderung menguat ke rentang 99,3-101,6," ucap Ibrahim.
Menurutnya, eskalasi konflik antara AS dan Iran yang turut melibatkan sejumlah negara di kawasan Teluk telah menyebabkan gangguan besar terhadap produksi dan distribusi minyak dunia.
Sejumlah fasilitas kilang minyak dilaporkan mengalami kerusakan, sementara distribusi melalui Selat Hormuz mengalami hambatan serius.
Selain itu, konflik berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina juga turut memperparah kondisi pasar energi global.
Ketegangan tersebut menyebabkan penurunan produksi minyak dan gas secara signifikan di beberapa wilayah.
"Perang menyebabkan turunnya produksi minyak dan gas, di Timur Tengah produksi minyak sudah berkurang 10 juta barel per hari," ujar Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa konflik Rusia-Ukraina diperkirakan akan berlangsung dalam jangka panjang, yakni antara tiga hingga lima tahun.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mereda dalam waktu dekat, tepatnya sekitar bulan April.
Situasi ini juga berdampak langsung pada kondisi domestik di Amerika Serikat. Gelombang protes mulai bermunculan dari masyarakat yang menolak kebijakan perang di Timur Tengah.
Kenaikan harga bahan bakar minyak, termasuk avtur untuk penerbangan, semakin membebani masyarakat.
Berdasarkan data dari American Automobile Association, harga bensin di AS saat ini mencapai sekitar USD3,70 per galon.
Angka tersebut meningkat hampir 24 persen sejak terjadinya serangan militer AS ke Iran.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]