Sektor manufaktur juga masih berada di zona ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS.
Dari sisi eksternal, peningkatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium, yang mencapai 47 miliar dolar AS, memberikan perlindungan alami terhadap tekanan sektor minyak dan gas.
Baca Juga:
Di Jepang Prabowo Bertemu Investor Sebut RI Tak Pernah Gagal Bayar Utang
Sementara itu, APBN tetap berperan sebagai bantalan ekonomi melalui berbagai stimulus, seperti bantuan pangan, subsidi energi, hingga diskon transportasi dengan total sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN juga terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.
“Lalu transaksi mata uang lokal Indonesia tahun 2025 meningkat menjadi 25,6 miliar dolar AS. Angka ini dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, dengan negara-negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan China, yang sudah menerima transaksi pembayaran QRIS Indonesia,” kata Menko.
Lebih lanjut, sejumlah indikator sosial turut menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, tingkat pengangguran menjadi 4,7 persen, dan rasio gini menurun ke level 0,363. Realisasi investasi sepanjang 2025 juga mampu menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.
Baca Juga:
Di Tengah Ketidakpastian Global, Prabowo ke Jepang Bidik Investasi & Ekonomi
Dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang, pemerintah mempercepat program hilirisasi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau sekitar 36,5 miliar dolar AS, tumbuh 43,3 persen secara tahunan dan berkontribusi 30,2 persen terhadap total investasi nasional.
Pemerintah juga memperkuat iklim usaha melalui pembentukan Satgas Percepatan dan Penyelesaian Permasalahan Investasi (Satgas P2SP) serta reformasi regulasi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025.