Upaya ini mencakup penyederhanaan perizinan berbasis risiko dan digitalisasi melalui sistem OSS-RBA. Selain itu, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus dikembangkan di sektor strategis seperti manufaktur, hilirisasi mineral, ekonomi digital, pariwisata, dan kesehatan.
Di tingkat global, Indonesia juga mencatat kemajuan kerja sama ekonomi dengan berbagai mitra, termasuk Uni Eropa, Kanada, dan kawasan Eurasia.
Baca Juga:
Di Jepang Prabowo Bertemu Investor Sebut RI Tak Pernah Gagal Bayar Utang
Kemudian RI memperkuat peran di forum internasional seperti BRICS, Association of Southeast Asian Nations, Regional Comprehensive Economic Partnership, dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership.
Dalam sesi diskusi, Airlangga menegaskan subsidi energi tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga menyiapkan cadangan fiskal guna mengantisipasi fluktuasi harga minyak global.
Sementara itu, investasi asing langsung (FDI) terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor strategis seperti energi, semikonduktor, dan pusat data.
Baca Juga:
Di Tengah Ketidakpastian Global, Prabowo ke Jepang Bidik Investasi & Ekonomi
"Indonesia memiliki lahan, Indonesia memiliki harga energi yang kompetitif, dan kita juga memiliki energi bersih. Harga air kita juga kompetitif. Jadi, sebagian besar perusahaan AS, atau bahkan perusahaan regional, termasuk China, berkomitmen untuk berinvestasi di pusat data Indonesia," ujarnya.
"Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa. Saya pikir digital adalah salah satu hal yang masih menarik bagi sebagian besar investor, terutama dengan AI, komputasi kuantum, mereka membutuhkan lebih banyak pusat data,” tutup Airlangga.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]