WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa ekonomi Indonesia masih menunjukkan resiliensi di tengah dinamika global yang penuh tekanan.
Dengan proyeksi pertumbuhan global dari Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan Bank Dunia yang berada di kisaran 2,6 hingga 3,3 persen, Indonesia mampu mencatat pertumbuhan 5,11 persen pada 2025.
Baca Juga:
Di Jepang Prabowo Bertemu Investor Sebut RI Tak Pernah Gagal Bayar Utang
Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (14/4/2026), Airlangga menerangkan pertumbuhan ini menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20. Ketahanan ekonomi nasional ditopang oleh kuatnya permintaan domestik, baik dari konsumsi rumah tangga, investasi, maupun belanja pemerintah.
Stabilitas sektor eksternal, kebijakan yang disiplin, serta koordinasi antarlembaga juga turut memperkuat fondasi tersebut. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama dengan kontribusi 54 persen terhadap PDB. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index yang tetap tinggi di level 360,7.
Di sektor pangan, produksi beras nasional mendekati 34,7 juta ton, dengan cadangan beras Perum Bulog hampir mencapai 4,6 juta ton, salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.
Baca Juga:
Di Tengah Ketidakpastian Global, Prabowo ke Jepang Bidik Investasi & Ekonomi
Sementara itu, di sektor energi, pemerintah mendorong kemandirian melalui program B50 dan mencatat surplus energi sebesar 4,84 juta kiloliter.
“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga.
Memasuki triwulan II 2026, Airlangga menilai ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi kuat. Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi.