WahanaNews.co, Jakarta - Pemerintah Indonesia terus meningkatkan pengembangan sektor industri kerajinan sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional, seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk berbasis kearifan lokal.
Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa nilai ekspor produk kerajinan pada 2025 mencapai USD 806,63 juta, naik 15,46% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 698,62 juta. Tren ini mencerminkan meningkatnya daya saing produk kerajinan Indonesia di pasar internasional.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu Dorong Percepatan Pembangunan KDKMP di Kerinci
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pemerintah berkomitmen memperkuat sektor tersebut melalui pembinaan berkelanjutan, termasuk peningkatan standar kualitas, sertifikasi, dan perluasan akses pasar.
“Penguatan industri kerajinan berbasis kearifan lokal merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan bahan baku dalam negeri sekaligus memberdayakan sumber daya manusia di daerah,” ujar Agus dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Emmy Suryandari menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku industri kecil dan menengah melalui berbagai program pelatihan dan sertifikasi yang dijalankan oleh unit teknis di Yogyakarta.
Baca Juga:
Kemenperin: Kinerja Industri Manufaktur Bertahan di Tengah Dinamika Global
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, badan usaha milik negara, serta sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan.
“Kami telah menerapkan konsep one stop service untuk sektor kerajinan dan batik, mencakup pelatihan teknis hingga berbagai sertifikasi seperti produk, kompetensi SDM, sistem manajemen mutu, halal, dan industri hijau,” kata Emmy.
Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik, Zya Labiba, menambahkan bahwa pelatihan mencakup berbagai subsektor seperti batik, anyaman, ukiran kayu, bambu, rotan, hingga produk tekstil tradisional seperti tenun dan ecoprint.
Menurutnya, dalam satu dekade terakhir, lembaga tersebut telah melatih lebih dari 11.900 tenaga kerja industri di berbagai wilayah Indonesia, mencerminkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat sektor kerajinan nasional.
[Redaktur: Jupriadi]