Penghentian pengiriman gandum selama lima bulan dari Ukraina yang merupakan negara pengekspor biji-bijian terbesar dunia telah berkontribusi pada melonjaknya harga pangan. Hal itu sangat memukul negara-negara termiskin di dunia. Keberangkatan kapal kargo Razoni akan membawa kelegaan bagi dunia.
"Hampir seluruh industri sudah mulai mempersiapkan dan relatif aman pada September-Oktober. Dan kita lihat dari Odessa, salah satu kapal (pengangkut) weed sudah jalan. Ini mudah-mudahan akan menurunkan tekanan terkait gandum," ujar Airlangga.
Baca Juga:
Diskon Listrik 50 Persen Serap Rp13,6 Triliun, Inflasi Lebih Terkendali
Pemerintah sendiri, kata dia, juga turut menyiapkan subtitusinya, dengan pengembangan sorgum dalam bentuk prototipe di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Juga pengembangan tanaman sagu yang sedang didalami pemerintah.
Menurut Airlangga, diversifikasi dengan melakukan intensifikasi pasokan pangan juga terus didorong oleh pemerintah. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan melakukan rekayasa genetik jagung melalui skema sistem GMO (Genetically Modified Organism, modifikasi genetika) atau pun hibrida.
"Seperti dalam rapat internal dengan Presiden (Joko Widodo), untuk jagung ini kita panen per tonnya per hektare 5-6 ton dengan bibit biasa," jelasnya.
Baca Juga:
Warga Pontianak Barat Antusias Berbelanja di Operasi Pasar Pemkot dan Mitra
"Kemarin sudah minta Kementerian Pertanian untuk merubah regulasi agar bisa dibuka dengan GMO, dengan GMO bisa mencapai 12-13 ton per hektar. Dengan luasan yang sama, kapasitas produksi bisa meningkat dua kali. Ini langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk jaga inflasi," kata Airlangga lagi. [tum]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.