Evergrande sebelumnya merupakan perusahaan real estat terbesar di China dengan valuasi pasar saham mencapai lebih dari US$50 miliar (Rp859,3 triliun). Namun, kejayaan tersebut sirna setelah perusahaan terjebak dalam krisis utang yang dipicu oleh pinjaman ugal-ugalan pada tahun 2021, yang pada akhirnya membongkar borok bisnis mereka.
Dalam persidangan terungkap fakta mengejutkan mengenai penyalahgunaan dana konsumen. Perusahaan diketahui telah mengambil dana jutaan dolar dari pembayaran awal calon pembeli rumah yang seharusnya digunakan untuk pembangunan fisik, namun justru disalahgunakan.
Baca Juga:
Pertumbuhan Properti Terus Naik, MARTABAT Prabowo-Gibran Sebut Aglomerasi Jabodetabekjur Semakin Lengkap Sebagai Kota Global
"Pengadilan mendengar bahwa perusahaan telah mengambil jutaan dolar dana pra-penjualan dari calon pembeli rumah yang tidak digunakan untuk konstruksi. Sebaliknya, dana tersebut dialihkan ke proyek-proyek baru yang mengakibatkan ratusan properti tidak selesai di seluruh China," bunyi keterangan di persidangan tersebut.
Hui Ka Yan yang juga dikenal dengan nama Xu Jiayin memulai kariernya dari latar belakang yang sederhana di pedesaan China dan dibesarkan oleh neneknya. Ia kemudian memberanikan diri masuk ke dunia pengembangan properti hingga akhirnya mendirikan Evergrande pada tahun 1996 dan merajai pasar.
Kehancuran Evergrande sering disebut-sebut sebagai pemicu utama merosotnya pasar properti China secara terus-menerus sejak tahun 2021. Pada saat keruntuhannya, Evergrande tercatat memiliki sekitar 1.300 proyek yang sedang dikerjakan di 280 kota di seluruh China.
Baca Juga:
Pendiri Evergrande Kehilangan Harta Sebesar Rp.603,5 Triliun
Perusahaan ini kemudian menyandang predikat sebagai pengembang properti dengan utang terbesar di dunia karena membangun kerajaan bisnisnya di atas tumpukan utang luar biasa. Total kewajiban perusahaan tercatat menembus angka fantastis yang menggoyang stabilitas ekonomi.
"Evergrande dikenal sebagai pengembang properti dengan utang paling besar di dunia setelah sebagian besar kerajaannya dibangun di atas uang pinjaman sebesar US$300 miliar (Rp5.156,1 triliun)," tulis laporan tersebut.
Bisnis raksasa ini mulai goyah saat pemerintah Beijing memperkenalkan aturan baru pada tahun 2020 untuk mengendalikan utang sektor properti yang sudah sangat tinggi. Hal ini memaksa Evergrande menjual propertinya dengan diskon besar-besaran demi memastikan adanya arus kas masuk, namun upaya tersebut tidak mampu menyelamatkan perusahaan.