Tohom juga menyoroti pentingnya pengembangan mobil nasional berbasis electric vehicle (EV) sebagai simbol kemandirian teknologi sekaligus penggerak reindustrialisasi.
Ia menilai Indonesia memiliki keunggulan komparatif dari sisi bahan baku baterai hingga pasar domestik yang besar.
Baca Juga:
Prabowo Tiba di Jawa Tengah, Tinjau Pengelolaan Sampah hingga Proyek Hilirisasi
“Ini peluang emas. Kalau dikelola serius, mobil nasional bukan hanya produk, tetapi instrumen geopolitik ekonomi yang bisa mengangkat posisi Indonesia di rantai industri global,” katanya.
Di sektor kesehatan, Tohom melihat kemandirian bahan baku obat (BBO) sebagai isu strategis yang menyentuh langsung ketahanan nasional.
Ia menyebut ketergantungan impor selama ini menjadi titik lemah yang harus segera diatasi.
Baca Juga:
Geopolitik Memanas, Danantara Justru Agresif Ekspansi Investasi
“Kemandirian farmasi bukan hanya soal industri, tetapi soal kedaulatan negara dalam melindungi rakyatnya. Negara tidak boleh bergantung pada pasokan luar untuk kebutuhan vital seperti obat,” ujarnya.
Tohom yang juga Ketua Umum Aglomerasi Watch ini mengatakan bahwa sinergi antarwilayah industri dan pusat pertumbuhan ekonomi harus diperkuat agar kebijakan hilirisasi tidak terpusat di wilayah tertentu saja.
“Aglomerasi industri harus dirancang cerdas, berbasis potensi daerah, agar pertumbuhan ekonomi lebih merata dan inklusif,” katanya.