WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kenaikan harga obat di tengah pelemahan rupiah kembali membuka persoalan lama industri farmasi Indonesia, yakni ketergantungan besar terhadap bahan baku impor.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI mendesak pemerintah mempercepat pengembangan bahan baku obat dalam negeri agar gejolak nilai tukar tidak terus membebani konsumen.
Baca Juga:
Tanpa Obat, Ini 8 Cara Paling Aman Turunkan Kolesterol
Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo, menilai situasi ini harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional.
“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat kemandirian industri farmasi nasional, terutama dalam pengembangan bahan baku obat dalam negeri, guna mengurangi ketergantungan pada impor dan melindungi konsumen dari dampak fluktuasi nilai tukar,” jelas Rio, melansir Kompas, Senin (15/6/2026).
Menurut Rio, kenaikan harga obat tidak boleh dibiarkan bergerak tanpa kendali karena obat merupakan kebutuhan dasar masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.
Baca Juga:
7 Penyebab Katarak yang Wajib Diwaspadai, dari Penuaan hingga Paparan Sinar UV
Ia mengatakan pemerintah perlu memastikan ketersediaan obat yang tetap terjangkau di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah.
“Dalam kondisi tekanan ekonomi, negara perlu memastikan ketersediaan alternatif obat yang lebih terjangkau bagi masyarakat, baik obat generik maupun produk dalam negeri, tanpa mengurangi kualitas, keamanan, dan khasiatnya,” jelasnya.
YLKI juga menilai ketersediaan obat generik dan produk farmasi dalam negeri harus diperkuat agar masyarakat memiliki pilihan yang aman, bermutu, dan tidak terlalu mahal.