WAHANANEWS.CO, Jakarta - Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal mengatakan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi saat ini disebabkan oleh empat faktor utama. Hal ini kembali disampaikannya dalam konferensi pers secara daring, Minggu (28/6/2026).
Pertama, kata Said Iqbal, dari perang AS dan Israel melawan Iran yang mengakibatkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga gas industri melambung tinggi.
Baca Juga:
Pernyataan Said Iqbal Soal Tewasnya Tiga Pekerja Kontraktor Pipa Air Bersih Diduga Blunder: Presiden Prabowo Perlu Mengevaluasi atau Mencopotnya
"Faktor lain (kedua) melemahnya daya beli masyarakat sehingga masyarakat membeli barang itu menurun dan akibatnya produksi menurun. Produksi yang menurun mengakibatkan efisiensi yang ujung-ujungnya PHK," kata Said dalam paparannya.
Faktor ketiga adalah adanya rencana relokasi produksi dari perusahaan China, Korea Selatan dan Jepang di Indonesia ke negara lain atau kembali ke negara asal prinsipal perusahaan. Faktor selanjutnya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang menekan daya saing.
"Fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar juga menyebabkan kenaikan ongkos produksi terutama perusahaan-perusahaan yang bahan bakunya berasal dari impor," kata Said.
Baca Juga:
Insiden Tiga Pekerja Tewas di Gorong-gorong, Aktivis Jakarta: Bukan Tanggung Jawab Langsung PAM Jaya
Kondisi ini memberatkan banyak perusahaan karena bahan bakunya diimpor dan produksinya dijual dalam rupiah.
"Jadi beli (bahan baku) pakai dolar setelah itu produksinya, jualnya rupiah. Ini sangat merugikan perusahaan-perusahaan tersebut," tegasnya.
Said mengaku sebagai penasihat presiden dan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh, dirinya turun tangan langsung ke lapangan untuk mengecek permasalahan PHK ini.