Lebih lanjut, sejak tahun 2023, pengelolaan dan pemanfaatan FABA PLN menunjukkan perkembangan signifikan.
Seiring penetapan FABA sebagai limbah non-B3 dan meningkatnya serapan di berbagai sektor, volume timbunan FABA di ash yard PLTU pun terus menurun.
Baca Juga:
Konsumsi Listrik Nasional 2025 Tumbuh 3,75 Persen, PLN Catat Penjualan 317,69 TWh
Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai pupuk silika yang dimanfaatkan masyarakat untuk pertaniannya.
“Kondisi ini menunjukkan pengelolaan FABA PLN semakin terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memastikan tidak ada lagi penumpukan residu pembangkitan yang berpotensi berdampak pada lingkungan,” ujar Darmawan.
Dari sisi kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menjelaskan bahwa pemanfaatan FABA juga berdampak langsung pada penurunan emisi gas rumah kaca.
Baca Juga:
Jakarta Electric PLN Mobile Libas Popsivo Polwan 3-0, Tutup Putaran Pertama di Peringkat Tiga
Hingga Desember 2025, total pengurangan emisi yang dihasilkan mencapai 166.472 ton CO2, yang berasal dari pemanfaatan FABA sebagai substitusi semen, subgrade atau lapisan dasar jalan, beton pracetak, serta beton ready mix.
Selain mendukung sektor infrastruktur, FABA juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti penetralisir air asam tambang dan pembenah tanah yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Warga Binaan Lapas Nusakambangan menjemur tumpukan batako yang baru saja selesai dicetak di Workshop FABA PLN. Melalui program pemberdayaan komunitas, FABA dimanfaatkan menjadi sumber daya yang potensial dalam pembangunan infrastruktur dan mendukung konsep sirkular ekonomi kerakyatan.