Di tengah dukungan pemerintah daerah, rencana pembangunan PLTN juga memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat sekitar dan kelompok pemerhati sektor energi.
Seorang nelayan bernama Haripan mengaku takut terhadap kemungkinan dampak pembangunan dan pengoperasian PLTN di sekitar wilayah tempat masyarakat mencari penghidupan.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung BRIN Lebih Utamakan Peneliti Lokal Untuk Bangun PLTN 2032
Kekhawatiran tersebut antara lain berkaitan dengan risiko kecelakaan nuklir yang pernah terjadi di Chernobyl dan Fukushima.
Haripan menilai pengalaman kecelakaan nuklir di berbagai negara menjadi salah satu alasan masyarakat perlu memahami secara menyeluruh risiko proyek tersebut sebelum PLTN benar-benar dibangun.
IESR Soroti Ekonomi dan Keselamatan
Baca Juga:
ALPERKLINAS Dukung PLN Perpanjang RUPTL hingga 20240, PLTN Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional
Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa turut memberikan catatan kritis terhadap rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia.
Fabby menilai persoalan pembangunan PLTN bukan semata-mata menyangkut pilihan ideologis mengenai penggunaan energi nuklir.
"Saya sangat kritis terhadap ini," ujar Fabby.