WahanaNews.co | Nilai tukar rupiah bertengger di level Rp14.894 per dolar AS pada Jumat (5/8) sore. Posisi ini menguat 38,5 poin atau 0,26 persen dari Rp14.902 per dolar AS.
Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.904 per dolar AS.
Baca Juga:
India Tolak BRICS Karena Tak Ingin Berbagi Mata Uang yang Sama dengan China
Mayoritas mata uang di Asia juga menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea Selatan menguat 0,90 persen, baht Thailand menguat 0,91 persen, peso Filipina menguat 0,73 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,03 persen. Sedangkan yen Jepang melemah 0,31 persen.
Sebaliknya, sebagian besar mata uang di negara maju melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa melemah 0,17 persen, dolar Kanada melemah 0,07 persen, dan franc Swiss melemah 0,13 persen.
Kemudian, dolar Australia melemah 0,11 dan poundsterling Inggris melemah 0,07 persen.
Baca Juga:
Begini Sejarah Dolar AS yang Kini Jadi Mata Uang Patokan di Dunia
Senior Analyst DC Futures Lukman Leong mengatakan rupiah terbilang cukup kokoh terhadap dolar AS setelah rilis data PDB kuartal II 2022.
"Rupiah masih akan mempertahankan penguatan mengingat data PDB kuartal II yang dirilis tadi pagi sangat spektakuler dan jauh di atas konsensus pasar," kata Lukman kepada wartawan.
Ia memproyeksi rupiah cenderung bertahan menguat minggu depan. Dengan absennya data ekonomi domestik, pelaku pasar menuju perhatian pada data inflasi AS bulan Juli yang diperkirakan akan lebih rendah seiring menurunnya harga minyak mentah dunia.
"Hal ini akan positif bagi rupiah," katanya.
Ia memperkirakan rupiah bergerak pada minggu depan di rentang Rp14.750 hingga Rp15.000 per dolar AS. [rin]