“Termasuk di antaranya di dalam kaitan dengan MBG,” kata Chatib.
Dalam kesempatan yang sama, Mochammad Firman Hidayat melaporkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi baik meskipun tekanan eksternal meningkat.
Baca Juga:
Perkuat Sinergi, Danrem 042/Gapu Terima silaturahmi Pengurus PPAD Jambi
Firman menyampaikan bahwa situasi ekonomi saat ini masih jauh berbeda dibandingkan krisis 1998 karena sejumlah indikator makro berada dalam posisi lebih kuat.
“Salah satunya kalau teman-teman lihat, utang perusahaan dalam dolar itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kondisi 1998 ya,” tutur Firman.
Ia menjelaskan bahwa neraca korporasi saat ini relatif sehat sehingga dunia usaha memiliki ruang lebih besar untuk menahan tekanan dari ketidakpastian global.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis di Tempat Hiburan Malam Karawang, Pemkab Ambil Tindakan Tegas
Selain itu, arus kas perusahaan dinilai masih cukup kuat untuk membantu memitigasi risiko yang muncul akibat gejolak nilai tukar dan kondisi ekonomi dunia.
“Dari sisi perbankan kita juga bisa lihat capital adequacy ratio dalam posisi di atas 25,” katanya.
Firman mengatakan bahwa rasio kecukupan modal perbankan tersebut menunjukkan sistem keuangan nasional masih memiliki bantalan yang kuat.