WAHANANEWS.CO, Jakarta - Media asing mulai menyoroti rupiah, salah satunya laman Singapura, Channel News Asia (CNA). Media itu menulis judul "Why is the Indonesian rupiah falling, and could confidence be cracking?".
Dimuat bagaimana rupiah disebut menghadapi tekanan baru, dan merosot ke level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS, di tengah meningkatnya kekhawatiran investor atas prospek fiskal negara tersebut.
Baca Juga:
Media Asing Terkejut: Indonesia Jadi ‘Pembeli Besar-besaran’ Jet Tempur Dunia
"Nilai tukar rupiah telah melemah hingga sekitar 17.600 rupiah terhadap dolar AS, melampaui angka simbolis 17.000 yang telah lama dianggap pasar sebagai ambang batas psikologis," tulis laman itu dalam artikel yang tayang Kamis, dikutip Jumat (22/5/2026) melansir CNBC Indonesia.
"Banyak warga Indonesia mengaitkan angka ini dengan Krisis Keuangan Asia 1998, ketika rupiah runtuh, inflasi melonjak, bank-bank bangkrut, dan kerusuhan meluas akhirnya mengakhiri pemerintahan mantan presiden Suharto selama tiga dekade," klaimnya.
"Rupiah telah terdepresiasi sekitar 5% sepanjang tahun ini, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia," tulis laman itu.
Baca Juga:
Media Asing Soroti Kebijakan Wisata Bali: Hormat Budaya hingga Denda Bagi Pelanggar
"Meskipun analis menekankan bahwa ekonomi Indonesia jauh lebih kuat daripada saat krisis akhir tahun 1990-an, penurunan tajam tersebut masih membuat investor gelisah dan kembali memicu kekhawatiran tentang inflasi dan arah kebijakan."
Seorang pengamat dari perusahaan fintech Ebury juga dikutip. Ia menyebut kenaikan harga minyak tentu tidak menguntungkan, dan ini menyebabkan beberapa kekhawatiran di bidang inflasi.
Pengamat lokal dari Bank Permata, Josua Parade juga diminta keterangan. Dikatakannya, investor khawatir bahwa harga minyak yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya subsidi dan kompensasi, melemahkan kredibilitas fiskal, mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi, dan membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan.