Berdasarkan laporan terbaru Strategic Management Office–Council of Economic and Development Affairs (SMO-CEDA), implementasi Saudi Vision 2030 telah mencapai 93 persen pada 2025. Capaian tersebut diukur melalui 38 indikator utama dan 390 subindikator sejak program diluncurkan pada 2016.
Program transformasi ekonomi tersebut dipantau langsung oleh Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al Saud, bersama Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed bin Salman.
Baca Juga:
Banyak Konsumen Mengeluh, Kemendag Minta Klarifikasi Resmi dari Shopee
Zulvri menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor melalui penguatan diplomasi dagang, promosi produk unggulan, serta penyesuaian standar produk sesuai regulasi Arab Saudi. Perwakilan perdagangan RI di Arab Saudi juga siap memfasilitasi business matching antara eksportir Indonesia dan calon pembeli di Arab Saudi.
“Pasar Arab Saudi saat ini sangat potensial bagi produk Indonesia. Untuk memaksimalkan peluang ini, perwakilan perdagangan RI siap menjembatani business matching antara pelaku usaha Indonesia dan Arab Saudi,” katanya.
Salah satu sektor yang dipandang paling menjanjikan adalah industri makanan dan minuman halal yang turut menopang ekosistem kebutuhan haji dan umrah. Pada 2025, jumlah jamaah umrah internasional tercatat mencapai 18,03 juta orang dan ditargetkan meningkat menjadi 30 juta orang pada 2030.
Baca Juga:
Kemendag Pertemukan Pelaku Usaha Ekonomi Hijau Tanah Air dengan Buyer Jepang
Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan terhadap produk makanan siap saji, perlengkapan ibadah, produk kesehatan, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
“Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok utama produk halal di Arab Saudi, baik untuk kebutuhan masyarakat lokal maupun jamaah internasional. Namun, Indonesia juga menghadapi persaingan dari negara ASEAN lain seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam,” ujar Zulvri.
Selain sektor halal, peningkatan partisipasi perempuan di dunia kerja Arab Saudi yang kini mencapai 35 persen turut membuka pasar baru. Zulvri melihat peluang bagi produk perawatan kulit, modest fashion untuk kebutuhan kerja, hingga layanan profesional yang menyasar konsumen perempuan.