Untuk komoditas solar, pemerintah menargetkan penghentian impor dilakukan lebih cepat dibandingkan bensin, dimulai dari produk dengan cetane number 48.
“Yang tidak kita impor lagi itu adalah solar, solar 2026 kita gak impor lagi itu C48, C51-nya itu nanti kita di semester kedua moga-moga sudah gak impor,” kata Bahlil.
Baca Juga:
Kerja Sama Dagang RI–AS Menguat, Investasi Mineral Wajib Bangun Smelter di Dalam Negeri
Sebelumnya, dalam pidato peresmian RDMP Balikpapan, Bahlil memaparkan kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun.
Kebutuhan tersebut terdiri atas bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kiloliter per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kiloliter per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kiloliter per tahun.
Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 ditargetkan meningkat hingga 5,8 juta kiloliter per tahun.
Baca Juga:
Bahlil Yakin Hakim MK Berlatar Politisi Tetap Independen dan Milik Negara
Tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan mampu menekan impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 hingga sekitar 3,6 juta kiloliter per tahun.
“Ke depan melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kiloliter per tahun dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” jelas Bahlil.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]