Selain Afrika, Indonesia juga sedang menjajaki pasokan migas dari Venezuela dan sejumlah negara Amerika Latin lainnya.
Arif menilai diversifikasi sumber energi menjadi penting karena gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga minyak dunia secara luas.
Baca Juga:
Listrik Sumatera Utara Kembali Normal, 735 Ribu Pelanggan Terdampak Kini Terlayani 24 Jam
Meski begitu, pemerintah tetap mencermati dampak penutupan Selat Hormuz terhadap kondisi makroekonomi global.
Arif mengatakan Selat Hormuz masih menjadi salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak laut dunia.
"Ya, kalau itu makroekonomi global, ya, kita tinggal monitor makroekonomi global itu seperti apa kondisinya," ujar Arif.
Baca Juga:
Jelang Galungan dan Kuningan, PLN UID Bali Perkuat Edukasi Keselamatan Listrik untuk Warga
Ia menyebut dampak penutupan jalur strategis tersebut tidak hanya menyasar sektor minyak dan gas.
"Kita memonitor banyak aspek karena dari sisi bisnis spesifik, yang banyak terdampak kan migas, terus plastik, lalu pupuk, ya," ujar Arif.
Menurut dia, tekanan yang muncul dari krisis Selat Hormuz berpotensi menjalar ke berbagai sektor industri di banyak negara.