Dalam kesempatan yang sama, Roro menekankan pentingnya penerapan ekonomi restoratif sebagai pendekatan pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian lingkungan. Menurutnya, tren pasar global saat ini semakin mengutamakan produk yang berkelanjutan dan diproduksi secara bertanggung jawab.
Karena itu, pelaku usaha Indonesia didorong untuk terus meningkatkan kualitas produk serta memenuhi standar internasional yang semakin menitikberatkan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok.
Baca Juga:
Wamendag Roro: Penguatan Waralaba Lokal dan Wirausaha Muda Kunci Indonesia Emas 2045
Roro juga memaparkan program “Desa Bisa Ekspor” yang bertujuan mengembangkan potensi ekspor dari daerah. Hingga saat ini, Kemendag bersama mitra strategis telah memetakan 2.616 desa, dengan 787 desa di antaranya masuk kategori desa siap ekspor.
Program tersebut diharapkan dapat membuka peluang yang lebih luas bagi komunitas dan pelaku usaha di daerah, termasuk perempuan yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
“Ketika perempuan diberikan kesempatan untuk berkembang dan memperoleh akses pasar yang lebih luas, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, komunitas, dan generasi berikutnya. Karena itu, kolaborasi seluruh pihak sangat penting untuk memperkuat ekosistem pemberdayaan perempuan dan pengembangan produk lokal Indonesia,” tutur Roro.
Baca Juga:
Wamendag Dorong Penguatan Perdagangan, Transformasi Digital, dan Transisi Hijau di Forum APEC 2026
Associate Director Penabulu Foundation, Wawan Suyatmiko, yang turut hadir sebagai peserta forum, mengapresiasi kehadiran Wamendag Roro dalam diskusi tersebut. Ia menilai pandangan yang disampaikan sejalan dengan upaya memperkuat peran perempuan sebagai penggerak ekonomi yang berkelanjutan.
Wawan juga menyambut baik langkah Kemendag dalam mempromosikan produk Indonesia melalui berbagai pameran dan Paviliun Indonesia di luar negeri. Menurutnya, perempuan pelaku usaha perlu terus mendapatkan dukungan, baik dalam bentuk perluasan akses pasar maupun akses pembiayaan, agar produk lokal yang mereka hasilkan mampu bersaing di pasar global.
Selain Roro, forum tersebut juga menghadirkan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan, Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Erik Teguh Primiantoro, serta Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Agraria Kementerian ATR/BPN Sukiptiyah. Diskusi dipandu oleh jurnalis Rosianna Silalahi.