Roro menilai Kota Bandung memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan kewirausahaan karena ditopang sektor perdagangan, industri, dan pariwisata yang terus berkembang. Kondisi tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha dari berbagai sektor yang dapat menjadi penopang ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu, Roro juga menegaskan komitmen Kementerian Perdagangan melalui tiga program prioritas, yakni Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Dari Lokal untuk Global.
Baca Juga:
Kemitraan Dagang Indonesia-Tiongkok Kian Menguat, Potensi Transaksi Capai USD 86 Juta di Shanghai
Ia berharap penyelenggaraan IFBC 2026 dapat membuka peluang bisnis baru, menciptakan lapangan kerja, serta melahirkan pelaku waralaba lokal yang memiliki daya saing hingga tingkat internasional.
“Kami mengajak pelaku usaha waralaba untuk tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga berani go global dengan memanfaatkan fasilitasi dari 25 Atase Perdagangan, Konsulat Dagang, serta 19 Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) yang dimiliki pemerintah,” kata Roro.
Melalui program UMKM BISA Ekspor, Kementerian Perdagangan terus mendorong akses pelaku usaha ke pasar global. Sepanjang 2025, Kemendag telah menyelenggarakan 622 sesi business matching dengan nilai transaksi ekspor mencapai 134,87 juta dollar AS. Sementara pada triwulan I 2026, sebanyak 170 sesi penjajakan bisnis telah menghasilkan transaksi ekspor senilai 3,97 juta dollar AS.
Baca Juga:
Wamendag Roro Dorong Ekspor Produk Mamin Indonesia di SIAL Shanghai 2026
Selain mendorong ekspansi usaha, Roro juga mengingatkan pelaku usaha untuk memastikan telah memiliki STPW sebelum menggunakan istilah maupun logo “Waralaba” dalam berbagai materi promosi dan kerja sama bisnis.
Ia turut mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih peluang usaha dengan menerapkan prinsip “2L”, yakni Legal dan Logis.
“Saat memutuskan waralaba, pertimbangkan dulu 2L; legal dan logis. Kami berharap masyarakat tidak mudah tergiur oleh janji keuntungan tetap yang tidak masuk akal atau klaim bebas risiko. Pada hakikatnya, setiap usaha memiliki dinamika dan risikonya masing-masing,” tuturnya.