"Saya rasa itu bukan faktor material yang akan mengganggu pasar," ujar Wang, seraya menilai intervensi pemerintah tidak akan mengubah tren jangka panjang yen.
Sepanjang April hingga Mei, pemerintah Jepang telah menggelontorkan lebih dari 11,7 triliun yen atau sekitar Rp1.286 triliun (asumsi kurs sekitar Rp109,9 per yen) dari cadangan devisa untuk menopang nilai tukar mata uangnya.
Baca Juga:
Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat Mulai Juli 2026, Turis RI Terdampak
Pada 30 April, yen sempat menguat tajam ke 156,6 per US$ dari 160,39 per US$, memicu spekulasi bahwa pemerintah melakukan intervensi sebelum akhirnya kembali melemah.
Sementara itu, Bank Sentral Jepang (BOJ) juga telah memperketat kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1%, level tertinggi dalam lebih dari 30 tahun.
Kenaikan sebesar 25 basis poin tersebut menjadi lanjutan dari kenaikan pada Desember lalu yang membawa suku bunga ke 0,75%, sekaligus menempatkan biaya pinjaman Jepang pada level tertinggi sejak 1995.
Baca Juga:
Janda Mantan Presiden Dewi Soekarno Disidang di Pengadilan Tokyo Jepang, Ini Kornologinya!
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.