Seusai wafatnya pendiri Republik Islam pada 1989, Khamenei terpilih menjadi Pemimpin Tertinggi dan memegang otoritas tertinggi negara sejak saat itu hingga 2026.
Sebagai Pemimpin Tertinggi, ia mengawasi langsung urusan politik, militer, agama, dan kebijakan luar negeri, termasuk kendali atas angkatan bersenjata dan institusi-institusi strategis negara.
Baca Juga:
Ledakan Dahsyat di Teheran, Ahmadinejad Gugur dalam Serangan Gabungan Israel-AS
Selama lebih dari tiga dekade, Khamenei menjadi figur paling berpengaruh dalam lanskap politik Iran dan memainkan peran utama dalam hubungan negaranya dengan Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara lain di Timur Tengah.
Kebijakan luar negerinya dikenal keras terhadap kekuatan Barat, sementara di tingkat domestik pemerintahannya diwarnai tindakan tegas terhadap protes dan oposisi politik.
Pada Sabtu (28/2/2026), serangkaian serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah wilayah di Iran termasuk ibu kota Teheran.
Baca Juga:
Laut dan Darat Jadi “Kuburan”, Rudal Iran Gempur USS Abraham Lincoln
Menjadi salah satu target utama dalam operasi tersebut, kompleks tempat Khamenei berada dilaporkan ikut terdampak serangan.
“Telah mencapai martabat tertinggi dalam pekerjaannya saat menghadapi konfrontasi militer itu,” demikian pernyataan media nasional Iran saat mengumumkan wafatnya sang pemimpin.
Peristiwa ini dipandang pengamat internasional sebagai momen bersejarah yang berpotensi mengubah arah politik domestik Iran sekaligus memicu dinamika baru dalam geopolitik kawasan Timur Tengah.