WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebuah studi terbaru dari ilmuwan China mengungkap celah serius dalam sistem pertahanan rudal Amerika Serikat yang dinilai kesulitan menghadapi ancaman senjata hipersonik modern.
Penelitian tersebut dipimpin oleh Liao Longwen dari Northwest Institute of Nuclear Technology dan dipublikasikan dalam jurnal Tactical Missile Technology.
Baca Juga:
Trump Buka Peluang Negosiasi dengan Iran di Tengah Perang, Tapi Ada Syaratnya
Hasil studi itu menyimpulkan sistem pertahanan udara Amerika Serikat saat ini dinilai tidak sebanding dengan ancaman rudal hipersonik yang memiliki kecepatan ekstrem serta kemampuan manuver tinggi.
“Sistem pertahanan rudal AS yang ada secara teoritis dapat mencegat beberapa senjata hipersonik pada tahap akhirnya, tetapi kecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan kemampuan siluman membuatnya sangat sulit,” tulis Liao dan rekan-rekannya.
Tim peneliti menganalisis berbagai lapisan sistem pertahanan rudal milik Amerika Serikat mulai dari fase tengah hingga fase terminal untuk menemukan titik lemahnya.
Baca Juga:
Minyak Tembus 119 Dolar per Barel, AS Pertimbangkan Cabut Sanksi demi Redam Harga
Penelitian tersebut menunjukkan sejumlah sistem pertahanan utama Amerika Serikat memiliki keterbatasan ketika menghadapi rudal yang bergerak dengan karakteristik hipersonik.
Sistem Aegis dengan pencegat SM-3 yang dirancang untuk mencegat rudal di luar atmosfer pada ketinggian lebih dari 100 kilometer disebut memiliki kelemahan terhadap rudal hipersonik.
“Panas ekstrem yang dihasilkan rudal hipersonik saat menembus atmosfer dapat membutakan sensor inframerah pencegat,” tulis tim peneliti dalam studi tersebut.
Sementara itu sistem Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD yang beroperasi pada ketinggian antara 40 hingga 150 kilometer dinilai kesulitan menghadapi rudal yang meluncur pada ketinggian rendah.
Pada ketinggian tertentu sistem ini juga dinilai rentan terkecoh oleh penggunaan umpan oleh rudal lawan.
Sistem Patriot PAC-3 MSE yang dirancang sebagai pertahanan jarak dekat juga memiliki keterbatasan waktu reaksi terhadap rudal yang menukik dengan sangat cepat.
“Untuk mencegat rudal yang menukik tajam, pencegat membutuhkan percepatan dua hingga tiga kali lipat dari target,” tulis para peneliti menjelaskan keterbatasan sistem tersebut.
Kondisi tersebut menjadi sangat sulit dicapai jika rudal lawan melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 6.
Temuan penelitian ini kemudian dianggap sejalan dengan sejumlah rekaman serangan dalam konflik terbaru di Timur Tengah.
Rekaman tersebut menunjukkan rudal Iran mampu menembus sistem pertahanan udara Israel dan Amerika Serikat di sekitar Tel Aviv sebelum menghantam sejumlah target militer bernilai tinggi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim rudal hipersonik dan drone tempurnya berhasil menembus sistem pertahanan THAAD buatan Amerika Serikat dalam Operasi True Promise 4, Kamis (5/3/2026).
“Rudal hipersonik dan drone serang kami berhasil menembus sistem THAAD,” kata Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam pernyataannya.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam gedung Kementerian Pertahanan Israel serta Bandara Internasional Ben Gurion di dekat Tel Aviv.
Rudal hipersonik sendiri dikenal memiliki karakteristik kecepatan sangat tinggi, kemampuan manuver kuat, serta jalur penerbangan yang sulit diprediksi.
Karakteristik tersebut membuat senjata jenis ini mampu menembus sistem pertahanan udara konvensional dalam waktu sangat singkat.
Penelitian Liao juga menyoroti bahwa bahkan jika sebuah pencegat berhasil mengenai sasaran, rudal hipersonik sering dirancang dengan sistem redundan serta ketahanan struktural tinggi.
Artinya serangan fisik yang tidak mengenai titik vital kemungkinan besar tidak cukup untuk menghentikan rudal tersebut menyelesaikan misinya.
Sebagai langkah masa depan, pemerintahan Donald Trump sebelumnya mengusulkan konsep sistem pertahanan bernama Golden Dome.
Sistem ini dirancang menggunakan ratusan satelit orbit rendah yang dilengkapi teknologi laser untuk menghadapi ancaman rudal modern.
Namun para ahli menilai konsep tersebut masih jauh dari tahap operasional dan belum siap menghadapi ancaman hipersonik yang berkembang pesat saat ini.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]