WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kantor kepresidenan Iran memberikan pernyataan terkait penutupan jalur perdagangan internasional yang sangat vital. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Deputi Komunikasi dan Informasi di Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai melalui unggahannya di media sosial asal Amerika Serikat (AS), X. Minggu, (05/04/2026).
"Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian dari pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi semua kerusakan yang disebabkan oleh perang yang dipaksakan," kata Tabatabai sebagaimana mengutip pemberitaan Anadolu Agency, melansir CNBC Indonesia.
Baca Juga:
Tujuh Kapal Malaysia Bebas Meluncur di Selat Hormuz, Anwar: Cukup Telepon Iran Sekali
Selain menuntut kompensasi, Tabatabai juga melontarkan kritik tajam kepada Presiden AS, Donald Trump. Ia menilai sikap pemimpin negara adidaya tersebut menunjukkan rasa frustrasi di tengah ketegangan yang terus memuncak di kawasan Timur Tengah.
"Trump telah menggunakan hinaan dan omong kosong karena keputusasaan dan kemarahan. Ia telah memicu perang skala penuh di kawasan ini dan masih terus menyombongkan diri," ujar Tabatabai dalam keterangannya.
Kondisi keamanan di kawasan tersebut memang berada dalam status waspada tinggi sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan dahsyat itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang hingga saat ini, termasuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Baca Juga:
Iran Tutup Selat Hormuz, Trump Ultimatum Cepat Buka atau Jadi Neraka!
Sebagai respons atas agresi tersebut, Teheran telah melakukan serangan balasan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang menargetkan Israel. Serangan balasan ini juga menyasar wilayah Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Selain serangan fisik, Iran juga secara resmi membatasi pergerakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan ekonomi dan politik terhadap sekutu Barat.
Pembatasan di Selat Hormuz sendiri telah mendapatkan kecaman keras dari Trump. Ia menegaskan bahwa militer AS siap melakukan tindakan ekstrem jika selat itu tidak dibuka.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat Sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Puji Tuhan. Presiden DONALD J. TRUMP," tulis Trump mengutip The Guardian.
Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat AS, Chuck Schumer, mengkritik keras sikap Trump yang dianggapnya bertindak seperti orang gila. Schumer menilai ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil adalah sebuah potensi kejahatan perang yang memalukan bagi Amerika Serikat.
"Selamat Paskah, Amerika. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman serta keluarga, Presiden Amerika Serikat justru mengoceh seperti orang gila yang tidak terkendali di media sosial. Dia mengancam kemungkinan kejahatan perang dan mengasingkan sekutu. Inilah dia, tapi ini bukan siapa kita. Negara kita layak mendapatkan yang jauh lebih baik," tegas Schumer melalui akun X miliknya.
Pakar hukum internasional dari Universitas Yale, Oona A. Hathaway, menambahkan bahwa serangan terhadap objek sipil seperti pembangkit listrik dan jembatan tidak memiliki dasar hukum yang sah dalam peperangan. Ia memperingatkan konsekuensi hukum internasional bagi AS jika ancaman Trump benar-benar dilaksanakan.
"Jika serangan yang diancamkan ini dilakukan, itu akan merupakan kejahatan perang. Menyengsarakan penduduk sipil demi daya tawar bukanlah hal yang sah menurut hukum," pungkas Hathaway.
[Redaktur: Alpredo Gultom]