WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa proses negosiasi dengan Iran kini berada di titik krusial antara tercapainya kesepakatan atau dimulainya kembali gelombang serangan militer yang mematikan.
Ini dilontarkan setelah Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa mereka tengah meneliti proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh AS.
Baca Juga:
UEA Dinilai Tak Lagi Butuh Perlindungan AS, Muncul Seruan Penutupan Pangkalan
Mengutip laporan Agence France-Presse (AFP) pada Rabu (20/6/2026) melansir CNBC Indonesia, Presiden Trump yang sebelumnya menyebutkan bahwa negosiasi telah memasuki tahap akhir, kini memperingatkan dengan tegas bawa celah bagi diplomasi dapat tertutup dalam waktu singkat jika tidak ada kesepakatan mutlak. Sinyal panas ini dilemparkan sang presiden di hadapan awak media sesaat sebelum situasi di koridor diplomatik kembali menegang.
"Ini benar-benar berada di garis perbatasan, percayalah," ujar Presiden Donald Trump, dilansir Kamis (21/5/2026). "Jika kami tidak mendapatkan jawaban yang benar, semuanya akan bergerak sangat cepat dan kami semua sudah siap untuk bergerak."
Presiden Trump menilai bahwa kesepakatan damai sebenarnya dapat tercapai dalam hitungan beberapa hari saja, namun dengan syarat mutlak bahwa pihak Tehran harus memberikan jawaban yang sepenuhnya memuaskan bagi Washington.
Baca Juga:
Militer AS Mulai Blockade Selat Hormuz, Siaga Babak II Perang AS-Iran
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyatakan bahwa pihaknya telah menerima poin-poin pandangan dari pihak Amerika Serikat dan kini sedang mempelajari dokumen tersebut secara saksama.
Pihak Iran sendiri tetap teguh pada pendiriannya dengan menuntut pembebasan aset-aset mereka yang dibekukan serta penghentian total blokade pelabuhan oleh militer AS sebelum kesepakatan disetujui. Tak lama setelah itu, Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf justru menuduh balik Washington sengaja mencari celah untuk memulai kembali peperangan setelah adanya ancaman serangan baru dari Presiden Trump.
"Pergerakan musuh, baik yang terang-terangan maupun rahasia, menunjukkan bahwa terlepas dari tekanan ekonomi dan politik, mereka belum meninggalkan tujuan militer dan berusaha memulai perang baru," kata Mohammad Bagher Ghalibaf.