WAHANANEWS.CO, Jakarta - Harga minyak kembali menguat Jumat (22/5/2026), setelah menurun selama tiga sesi berturut-turut. Hal ini terjadi karena investor mempertimbangkan pesan yang beragam tentang negosiasi kesepakatan perdamaian Iran.
Melansir CNBC Indonesia, sebelumnya, Amerika Serikat (AS) telah mengisyaratkan kesepakatan damai akan segera tercapai. Namun dalam pernyataan terbaru, kepemimpinan Iran dilaporkan tetap ingin menyimpan uranium yang diperkaya di dalam negeri.
Baca Juga:
RSUD Rabain Diverifikasi Kemenkes untuk Standar Layanan
Pembicaraan kedua negara dikhawatirkan deadlock. Hal ini bisa menimbulkan kekhawatiran konflik berkepanjangan, yang akan mengganggu pasokan minyak lebih lama.
Kontrak berjangka Juli untuk patokan internasional, minyak mentah Brent, naik 1,9% menjadi US$104,52 per barel pada perdagangan awal Asia. Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate AS untuk Juni naik 1,5% menjadi US$97,81 per barel.
Perlu diketahui Jumat (22/5/2026) pagi, laporan muncul soal Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ia mengeluarkan arahan bahwa uranium tingkat hampir senjata di negara itu tidak boleh dikirim ke luar negeri, lapor Reuters, mengutip sumber-sumber Iran.
Baca Juga:
Gencatan Senjata AS-Iran Picu Harga Minyak Dunia Anjlok Hingga 17 Persen
Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington berada dalam "tahap akhir" negosiasi dengan Iran, menurut laporan gabungan. Kekhawatiran atas pasokan minyak terus berlanjut dengan Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa seiring meningkatnya permintaan perjalanan selama musim panas, pasar minyak dapat segera memasuki "zona merah" karena stok global menipis.
"Solusi terpenting untuk guncangan energi yang disebabkan oleh perang Iran adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan tanpa syarat," kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, menambahkan bahwa negara-negara berkembang di Asia dan Afrika akan merasakan "dampak terbesar dari krisis ini".
"Para eksekutif energi memperingatkan bahwa normalisasi penuh pasokan minyak Timur Tengah mungkin tidak akan terjadi hingga tahun 2027 karena skala gangguan yang disebabkan oleh konflik," menurut catatan terbaru.