WAHANANEWS.CO, Jakarta - Anggaran nuklir Amerika Serikat melonjak tajam dan kembali menegaskan posisi Washington sebagai negara paling boros dalam belanja senjata pemusnah massal di dunia.
Lonjakan pengeluaran itu menjadi sorotan setelah Kampanye Internasional untuk Memusnahkan Senjata Nuklir atau ICAN merilis laporan tahunan mengenai belanja nuklir global pada Rabu (10/06/2026).
Baca Juga:
PLN Tepis Isu Blackout di Jawa, Sistem Kelistrikan Tetap Aman dan Terkendali
Dalam laporan tersebut, sembilan negara pemilik senjata nuklir disebut telah menghabiskan hampir US$119 miliar atau sekitar Rp2.142 triliun untuk memperkuat arsenal nuklir mereka.
Nilai tersebut setara dengan pengeluaran sekitar US$3.768 atau sekitar Rp67,8 juta setiap detik.
Amerika Serikat menjadi negara dengan belanja nuklir terbesar dibandingkan delapan negara pemilik senjata nuklir lainnya.
Baca Juga:
Listrik Sumatera Utara Kembali Normal, 735 Ribu Pelanggan Terdampak Kini Terlayani 24 Jam
Washington tercatat menggelontorkan dana hingga US$69,2 miliar atau sekitar Rp1.245,6 triliun hanya untuk persenjataan nuklirnya.
Angka tersebut jauh melampaui gabungan belanja nuklir negara-negara lain yang juga memiliki senjata nuklir.
Belanja nuklir Amerika Serikat juga mencatat kenaikan tahunan terbesar di dunia.
Kenaikannya mencapai 22 persen atau setara tambahan anggaran US$12,4 miliar atau sekitar Rp223,2 triliun dalam satu tahun.
ICAN menilai lonjakan tersebut menunjukkan investasi berkelanjutan negara-negara besar dalam modernisasi dan perluasan hulu ledak nuklir.
Manuver itu terjadi ketika ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia terus meningkat.
Secara keseluruhan, pengeluaran sembilan negara bersenjata nuklir naik 19 persen dan menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Sembilan negara tersebut adalah Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Prancis, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.
China menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan belanja nuklir terbesar.
Beijing tercatat mengalokasikan dana sebesar US$13,5 miliar atau sekitar Rp243 triliun untuk program nuklirnya.
Inggris muncul sebagai negara dengan pengeluaran nuklir terbesar ketiga setelah menyalip Rusia.
London tercatat menggelontorkan dana sebesar US$12,6 miliar atau sekitar Rp226,8 triliun.
Sementara itu, Rusia berada di bawah Inggris dengan pengeluaran nuklir sebesar US$9,5 miliar atau sekitar Rp171 triliun.
Data tersebut memperlihatkan persaingan nuklir global tidak lagi hanya didominasi Amerika Serikat, Rusia, dan China.
Inggris kini ikut menjadi sorotan karena anggaran nuklirnya meningkat di tengah ketegangan keamanan Eropa.
Lembaga FRA dan ICAC menilai belanja nuklir global sebagai pemborosan besar di tengah berbagai krisis kemanusiaan.
Pengeluaran nuklir dunia untuk satu hari pada tahun lalu disebut cukup untuk menyediakan bahan pangan bagi dua juta orang selama satu tahun penuh.
Total belanja nuklir tahunan juga diklaim mampu membiayai operasional rutin Perserikatan Bangsa-Bangsa selama 32 tahun.
Laporan pembengkakan dana nuklir ini muncul bersamaan dengan rencana strategis Pentagon untuk menyebarkan senjata nuklir Amerika Serikat ke lebih banyak negara anggota NATO di Eropa.
Rencana tersebut mencuat setelah sejumlah negara yang berbatasan atau berdekatan dengan Rusia menyatakan ketertarikan menjadi tuan rumah bom nuklir Amerika Serikat.
Negara-negara yang disebut tertarik antara lain Polandia dan sejumlah negara Baltik.
Amerika Serikat sebenarnya telah menempatkan ratusan bom gravitasi B61 di Eropa melalui program berbagi nuklir sejak era 1950-an.
Senjata nuklir tersebut diyakini masih tersimpan di sejumlah pangkalan militer di Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki.
Meski berada di wilayah negara sekutu, kendali penuh atas senjata tersebut tetap berada di bawah otoritas Washington.
Rencana perluasan infrastruktur nuklir NATO langsung memicu reaksi keras dari Moskow.
Duta Besar Luar Biasa Rusia Andrey Belousov memperingatkan bahwa perpindahan senjata nuklir NATO yang semakin mendekati perbatasan Rusia akan memicu tindakan balasan.
Rusia menilai pengerahan senjata nuklir Amerika Serikat di Eropa sebagai ancaman langsung terhadap keamanan kawasan.
Moskow juga menuntut agar seluruh senjata nuklir Amerika Serikat ditarik dari tanah Eropa.
Selain itu, Rusia meminta seluruh infrastruktur pendukung senjata nuklir tersebut dihancurkan untuk mencegah risiko perang nuklir global.
Kenaikan belanja nuklir Amerika Serikat dan rencana perluasan penempatan senjata di Eropa kini menambah kekhawatiran terhadap arah perlombaan senjata dunia.
Di tengah krisis pangan, perang, dan tekanan ekonomi global, dana fantastis untuk senjata nuklir kembali memunculkan pertanyaan besar tentang prioritas keamanan negara-negara besar.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]