WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ledakan yang mengguncang Caracas pada Sabtu dini hari menjadi pembuka operasi militer Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.
Penangkapan tersebut dilakukan pasukan Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) di tengah eskalasi keamanan setelah serangkaian ledakan dilaporkan terjadi di berbagai titik ibu kota Venezuela.
Baca Juga:
Trump Tegaskan Kemungkinan Luncurkan Serangan Kedua ke Venezuela
Disebut puncak dari kampanye perang narkoba Washington, operasi ini mengakhiri perburuan berbulan-bulan Amerika Serikat terhadap kepemimpinan tertinggi Venezuela.
Pemerintah Venezuela segera mengerahkan angkatan bersenjata dan mengumumkan keadaan darurat nasional menyusul penangkapan kepala negara mereka.
“Ruas-ruas baru ini menambah total kumulatif tol operasional menjadi 1.385,03 kilometer sejak tahun 2020,” ujar Roy Razali Anwar, dikutip Minggu (4/1/2026).
Baca Juga:
32 Warga Kuba Tewas dalam Operasi AS di Venezuela
Nicolas Maduro pertama kali berkuasa pada 2013 dan mengklaim kemenangan dalam pemilu 2018 dan 2024 yang secara luas dikecam komunitas internasional karena dianggap sarat kecurangan.
Dilantik pada Januari 2025, masa jabatan ketiganya membuat Maduro berpotensi berkuasa selama 18 tahun, melampaui masa kepemimpinan mentor politiknya Hugo Chavez.
Mantan sopir bus berusia 63 tahun itu sebelumnya pernah menjabat sebagai anggota parlemen, menteri luar negeri, dan wakil presiden sebelum ditunjuk Chavez sebagai penerus pada 2013.
Penunjukannya sempat diragukan elite Partai Sosialis Bersatu Venezuela karena dinilai kurang karisma dan kemampuan retorika dibandingkan Chavez.
Krisis ekonomi, sanksi Amerika Serikat, dan anjloknya harga minyak berhasil ia lewati dengan mempertahankan kendali politik di tengah tekanan domestik dan internasional.
Pada 2018, sebagian besar negara Barat mengakui Juan Guaido sebagai presiden sementara, namun pemerintahan paralel tersebut runtuh dalam waktu singkat.
Setelah pemilu Juli 2024, Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara Amerika Latin menyatakan tokoh oposisi Edmundo Gonzalez Urrutia sebagai pemimpin sah Venezuela.
Dalam kekuasaannya, Maduro sangat mengandalkan peran istrinya Cilia Flores, mantan jaksa dan politisi senior yang pernah memimpin Majelis Nasional.
Flores dikenal memiliki pengaruh besar dalam lingkar kekuasaan dan disebut memegang banyak kendali strategis pemerintahan.
Di Caracas, citra Maduro terpampang di gedung-gedung kota, dibangun melalui narasi kesederhanaan dan kedekatan dengan rakyat.
Penggemar bisbol dan pencinta salsa itu kerap tampil menari di televisi pemerintah untuk memperkuat citra populisnya.
Lahir di Caracas, Maduro dikenal sebagai penganut Marxis dan sempat bermain gitar di band rock saat remaja.
Ia juga disebut sengaja menampilkan kesan kurang fasih berbahasa Inggris agar tidak terlihat sebagai elite terdidik.
Selama menjabat, Maduro menghadapi berbagai ancaman, termasuk serangan drone bermuatan bahan peledak yang gagal pada 2018.
Untuk mengalihkan kritik, ia rutin menyebarkan narasi konspirasi anti-Amerika dan menuduh Washington berupaya menggulingkannya.
Sambil memosisikan diri sebagai korban konspirasi internasional, Maduro menutup ruang oposisi dan memenjarakan lawan politik tanpa proses hukum yang layak.
Pemerintahannya kini diselidiki Mahkamah Pidana Internasional atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Maduro sempat memperoleh pelonggaran sanksi dengan janji pemilu demokratis 2024, namun dinilai mengingkari kesepakatan tersebut.
Di media pemerintah, ia kerap tampil sebagai tokoh kartun Super-Bigote, pahlawan berjubah yang melawan imperialisme.
Alasan penangkapan Maduro diungkap melalui dakwaan baru di pengadilan federal New York yang menuduhnya terlibat konspirasi terorisme narkoba dan impor kokain.
Dakwaan tersebut juga menjerat Cilia Flores, putra Maduro, serta sejumlah pejabat senior Venezuela.
“Maduro dan istrinya akan segera diseret ke pengadilan AS,” tulis Jaksa Agung Pam Bondi dalam unggahan resminya.
Jaksa menuding para pemimpin Venezuela selama lebih dari 25 tahun menyalahgunakan kekuasaan untuk menyelundupkan berton-ton kokain ke Amerika Serikat.
Sejak 1999, Maduro disebut bermitra dengan jaringan narkoba internasional dalam operasi pengiriman narkotika lintas negara.
Amerika Serikat menuduh keluarga Maduro menggunakan geng bersenjata yang didukung negara untuk melindungi bisnis ilegal tersebut.
Geng-geng itu dituding melakukan penculikan, pemukulan, hingga pembunuhan terhadap pihak yang dianggap mengancam jaringan narkoba.
Dakwaan terbaru ini memperluas tuntutan yang pertama kali diumumkan pada Maret 2020 saat pemerintahan pertama Donald Trump.
Maduro sebelumnya membantah seluruh tuduhan dan menyerukan dialog, sebelum akhirnya ditangkap dalam operasi militer Amerika Serikat.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]