WAHANANEWS.CO, Jakarta - Jatuhnya Nicolas Maduro dari puncak kekuasaan Venezuela kian diyakini bukan semata akibat tekanan Amerika Serikat, melainkan hasil manuver senyap dari lingkaran elite Caracas yang merancang transisi dari dalam.
Indikasi tersebut menguat setelah terungkap adanya pertemuan tertutup di luar negeri yang membahas masa depan Venezuela tanpa kehadiran Maduro.
Baca Juga:
Musuh Lama Duduk Bersama, AS Satukan Israel–Suriah demi Cegah Perang
Dalam pusaran dinamika ini, Wakil Presiden Delcy Rodriguez mencuat sebagai figur kunci yang disebut memimpin arah transisi kekuasaan.
Sejumlah pejabat Venezuela dilaporkan menggelar pembicaraan rahasia di Doha, Qatar, untuk mendiskusikan skema pemerintahan pasca-Maduro.
Pertemuan itu berlangsung tanpa kehadiran Maduro, sementara Delcy Rodriguez bersama saudaranya, Jorge Rodriguez, justru tampil memimpin dialog lintas kepentingan.
Baca Juga:
Survei LSI Bongkar Fakta: Dua Pertiga Rakyat Tolak Pilkada Lewat DPRD
Seorang anggota senior keluarga kerajaan Uni Emirat Arab disebut berperan sebagai perantara antara elite Venezuela dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di tengah meningkatnya tekanan militer Washington terhadap Caracas.
Menurut laporan media Amerika, Delcy Rodriguez secara langsung menjalin komunikasi dengan pihak AS dan memosisikan diri sebagai figur yang dinilai lebih dapat diterima untuk memimpin Venezuela dibandingkan Maduro.
Langkah tersebut memicu spekulasi luas bahwa perubahan kekuasaan telah disiapkan dari dalam rezim, bukan semata dipaksakan oleh tekanan eksternal.