WAHANANEWS.CO, Jakarta - Akhir pekan berubah kacau ketika badai salju hebat menyapu kawasan Pantai Timur Amerika Serikat dan langsung melumpuhkan mobilitas warga serta berbagai layanan publik pada Minggu (25/1/2025).
Cuaca ekstrem ini membuat perjalanan darat dan udara berisiko tinggi, sementara aktivitas harian masyarakat tersendat akibat kombinasi salju tebal, hujan es, dan suhu yang membeku.
Baca Juga:
Hujan Ekstrem Picu Banjir Bandang dan Longsor di Lereng Gunung Slamet, BNPB Catat Korban Jiwa
Badai musim dingin tersebut bergerak melintasi sejumlah wilayah strategis dengan intensitas tinggi dan datang di waktu puncak perjalanan, sehingga dampaknya terasa lebih luas dibanding hari biasa.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terpukul karena hampir 1.500 penerbangan yang beroperasi di dalam, menuju, maupun dari Amerika Serikat dibatalkan hanya dalam satu hari.
Pembatalan penerbangan terjadi seiring memburuknya kondisi cuaca di sejumlah bandara utama yang berada di jalur lintasan badai.
Baca Juga:
Badai Salju Dahsyat di Amerika Serikat Tewaskan 33 Orang
Dampak tersebut tidak berhenti dalam satu hari karena puluhan hingga ratusan penerbangan tambahan kembali dibatalkan untuk jadwal keberangkatan berikutnya.
Bandara-bandara di kawasan Pantai Timur menjadi titik paling terdampak karena salju tebal, hujan beku, dan angin kencang membuat proses lepas landas serta pendaratan dinilai tidak aman.
Rangkaian pembatalan ini memicu efek berantai bagi penumpang, mulai dari penundaan panjang, perubahan jadwal mendadak, hingga batalnya perjalanan lanjutan.
Aktivitas logistik dan perjalanan bisnis turut terganggu karena terbatasnya pergerakan pesawat di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Selain transportasi udara, badai salju juga memicu peringatan cuaca ekstrem bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Badan Cuaca Nasional Amerika Serikat menyebut badai musim dingin yang terjadi tergolong signifikan dan berpotensi berlangsung cukup lama hingga awal pekan.
Cuaca ekstrem berupa salju lebat, hujan es, dan hujan beku meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, gangguan perjalanan darat, serta pemadaman listrik berkepanjangan akibat pohon tumbang dan kerusakan jaringan.
Sedikitnya 11 negara bagian menetapkan status darurat untuk mempercepat respons dan koordinasi penanganan dampak badai.
Sekitar 205 juta penduduk tercatat tinggal di wilayah yang berada di bawah peringatan cuaca musim dingin dengan ancaman salju, es, dan suhu ekstrem.
Puluhan kota besar diperkirakan terdampak langsung, termasuk New York, Washington, Boston, dan Dallas.
Di sejumlah lokasi, ketebalan salju diprediksi dapat mencapai lebih dari 50 sentimeter dan cukup untuk melumpuhkan aktivitas perkotaan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau membatasi aktivitas luar ruangan, terus memantau perkembangan cuaca, dan mengutamakan keselamatan hingga kondisi kembali normal.
Badai salju ini kembali menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem mampu menimbulkan dampak luas, bukan hanya pada perjalanan udara, tetapi juga pada sendi-sendi kehidupan sehari-hari.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini].