WAHANANEWS.CO, Jakarta - Di balik deru ledakan di Teheran, para analis mulai melihat pola yang sangat familiar karena strategi yang dijalankan Washington dianggap memiliki kemiripan yang mencolok dengan invasi Vladimir Putin di Ukraina.
Amerika Serikat dan Israel kini tengah melancarkan kampanye militer besar-besaran terhadap Iran yang memicu kekhawatiran global, melansir CNBC Indonesia, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga:
Kediaman Presiden Putin Diserang, Donald Trump Marah
Meskipun skalanya berbeda, di mana AS sejauh ini masih membatasi diri pada serangan udara sementara Rusia mengirim pasukan darat besar-besaran, esensi dari konflik ini dianggap serupa. Kedua perang tersebut menunjukkan pergeseran tujuan yang terus berubah, lini masa yang tidak jelas, hingga dalih hukum yang dinilai lemah oleh para pakar internasional.
Awalnya, Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan terhadap Iran dilakukan semata-mata untuk mencegah rezim tersebut memperoleh senjata nuklir dan melemahkan jaringan proksinya. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi Washington melonjak drastis menjadi upaya penggulingan kekuasaan secara total.
Presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka telah menyatakan bahwa kepemimpinan Iran harus segera diganti demi stabilitas kawasan. Ia bahkan tidak ragu untuk menuntut penyerahan diri secara total dari pihak Teheran dalam waktu dekat.
Baca Juga:
Kediaman Presiden Rusia Diserang Drone Ukraina, Putin Ingatkan AS Takkan Dibiarkan Tanpa Balasan
"Kepemimpinan Iran harus diganti. Tehran harus melakukan penyerahan diri tanpa syarat," tegas Donald Trump dalam pernyataan terbarunya mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pola perubahan narasi ini persis seperti yang dilakukan Kremlin saat pertama kali menyerang Ukraina pada Februari 2022. Kala itu, Putin beralasan ingin melakukan demiliterisasi, namun kemudian narasinya berubah menjadi perlindungan terhadap warga penutur bahasa Rusia di wilayah timur.
Kemiripan ini bahkan masuk ke ranah bahasa yang digunakan oleh para petinggi militer kedua negara. Baik AS maupun Rusia sama-sama mengeklaim bahwa aksi militer mereka adalah langkah defensif untuk mengakhiri perang yang diklaim dimulai oleh pihak lawan.