Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu jalur paling vital dalam perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati kawasan tersebut sebelum konflik pecah.
Akibat blokade Iran, ekspor minyak dari Timur Tengah turun drastis dan memicu salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Baca Juga:
Viral Maling Emas di Medan, Santai Cek Barcode Sebelum Bawa Kabur 150 Gram
Sebagai balasan, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran untuk menekan Teheran.
“Blokade AS akan tetap berlaku penuh hingga kesepakatan dicapai, disertifikasi, dan ditandatangani,” ujar Trump pada Minggu (24/5/2026).
Walaupun pasar menyambut positif perkembangan negosiasi, ketidakpastian masih membayangi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga:
Pelantikan PNS di Kejari Deli Serdang Geger, Muncul Papan Bunga Bertuliskan “Pelakor”
Trump sebelumnya beberapa kali menyebut konflik dengan Iran hampir selesai, tetapi ketegangan geopolitik kembali meningkat sehingga harga minyak sempat melonjak tajam.
Pekan lalu, harga minyak mentah AS tercatat turun lebih dari 8 persen sedangkan Brent melemah lebih dari 5 persen setelah Trump membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran demi memberi ruang tambahan bagi negosiasi.
Namun sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia masih tercatat melonjak lebih dari 30 persen.