WAHANANEWS.CO, Jakarta - Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Sugiono mengajak negara-negara anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) untuk memperkuat solidaritas dan saling membantu di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang di kawasan Timur Tengah.
Ajakan tersebut disampaikan Sugiono saat mengikuti Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN yang digelar secara daring pada Jumat, 13 Maret 2026.
Baca Juga:
Srikandi PLN, Peran Aktif Keterlibatan Perempuan dalam Produktivitas Kinerja Perusahaan
Pertemuan ini secara khusus membahas respons bersama negara-negara Asia Tenggara terhadap situasi konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi berdampak luas, baik dari sisi keamanan, kemanusiaan, maupun stabilitas ekonomi kawasan.
Dalam kesempatan tersebut, Menlu Sugiono menegaskan pentingnya ASEAN untuk terus memperkuat koordinasi dan menjaga ketahanan kawasan di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Pemerintah Indonesia juga menilai kerja sama antarnegara ASEAN menjadi faktor penting dalam menghadapi dampak konflik internasional yang dapat memengaruhi masyarakat di kawasan.
Baca Juga:
PBB Tunjuk Retno Marsudi Sebagai Penggerak Agenda Air Global
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang menjelaskan hal tersebut dalam konferensi pers yang digelar pada Jumat, 13 Maret 2026 di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta.
“Menlu RI mendorong de-eskalasi dan menegaskan kembali pentingnya ASEAN untuk terus memperkuat koordinasi. Ketahanan kawasan perlu di jaga dalam menghadapi konflik yang terjadi,” ujar Yvonne menambahkan.
Lebih lanjut, Yvonne menjelaskan bahwa Menlu RI juga mendorong adanya kerja sama yang lebih erat antarnegara ASEAN dalam hal evakuasi serta pemberian bantuan konsuler bagi warga negara ASEAN yang berada di wilayah terdampak konflik.
Menurutnya, mekanisme kerja sama tersebut sebenarnya telah tersedia dalam kerangka kerja ASEAN.
“Pak Menlu menekankan di situasi seperti ini bagaimana kita negara-negara ASEAN saling membantu WNI. Dan, banyak juga negara-negara ASEAN yang warga negaranya tersebar di Timur Tengah,” kata Yvonne.
Ia menambahkan bahwa bentuk kerja sama perlindungan warga negara tersebut sudah mulai terlihat ketika proses evakuasi warga negara Indonesia (WNI) dari Teheran, Iran pada pekan ini.
Beberapa negara anggota ASEAN bahkan sempat meminta bantuan kepada Indonesia untuk membantu proses evakuasi warga negara mereka yang berada di wilayah konflik.
“Kemarin juga, di Iran, ada beberapa (negara ASEAN) yang ingin menitipkan warganya. Tapi, karena situasi di lapangan sangat dinamis sekali, jadi banyak perubahan di lapangan,” ucapnya menambahkan.
Secara khusus, Menlu Sugiono juga menyampaikan kesiapan Indonesia untuk berperan aktif dalam mendorong dialog serta upaya de-eskalasi guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Indonesia menilai langkah diplomasi dan dialog terbuka menjadi kunci penting untuk mencegah konflik semakin meluas.
Dalam pertemuan tersebut, para Menteri Luar Negeri ASEAN sepakat untuk mendorong upaya de-eskalasi serta membahas berbagai kemungkinan dampak yang dapat dirasakan kawasan Asia Tenggara apabila eskalasi konflik terus meningkat.
Pertemuan khusus para Menlu ASEAN ini dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Filipina, Maria Theresa Lazaro, serta dihadiri oleh Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn.
Selain isu keamanan dan kemanusiaan, forum tersebut juga menyoroti dampak ekonomi global akibat konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, terutama terkait potensi gangguan terhadap pasokan energi dan stabilitas ekonomi yang dapat berimbas pada negara-negara ASEAN.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]