WAHANNEWS.CO, Jakarta - Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran mengerahkan lebih dari 2.000 drone murah untuk melumpuhkan pertahanan udara lawan dan menciptakan kekacauan total di kawasan.
Langkah ini menjadi kejutan besar bagi Amerika Serikat (AS), mengingat sebelumnya Presiden Donald Trump hanya berfokus pada ancaman rudal konvensional.
Baca Juga:
Tanpa Deklarasi, Arab Saudi Bantu Cegat Drone Iran Menuju Israel
Melansir CNBC Indonesia, saat memulai serangan udara ke Iran pada 28 Februari lalu, Trump sempat melontarkan peringatan keras bahwa industri rudal Teheran akan "diratakan dengan tanah". Namun, sang Presiden sama sekali tidak menyinggung ancaman dari armada "pesawat tak berawak" milik negeri tersebut.
"Rudal-rudal Iran dan industri misilnya akan benar-benar musnah," tegas Trump sesaat sebelum serangan diluncurkan sesumbar di banyak media.
Hanya berselang enam hari sejak pernyataan itu, Iran membalas dengan gelombang serangan drone 'kamikaze' jenis Shahed, yang menargetkan sekutu-sekutu AS di Teluk. Serangan paling mematikan sejauh ini menghantam pangkalan militer AS di Kuwait yang menewaskan enam tentara AS, serta menyasar infrastruktur energi vital di Arab Saudi dan Qatar.
Baca Juga:
Perang Makin Panas, Rusia Lancarkan 90 Drone Shahed Iran ke Ukraina
Ya, drone Shahed 136 menjadi andalan Iran. Drone ini dikenal memiliki desain sederhana namun mematikan dengan biaya produksi yang relatif murah, yakni sekitar US$ 20.000 (Rp 338 juta) hingga US$ 50.000 (Rp843 juta) per unit.
Meski hanya membawa hulu ledak 50 kg, jauh lebih kecil dibanding rudal balistik, drone ini terbukti sangat efektif dalam menghancurkan instalasi penting. Ini sulit dideteksi radar saat terbang rendah.
Mantan Marinir AS sekaligus eks Wakil Asisten Sekretaris Pertahanan untuk Timur Tengah, Mick Mulroy, mengakui keunggulan senjata murah itu. Menurutnya, efektivitas drone tersebut telah teruji dalam berbagai konflik sebelumnya, termasuk di perang Ukraina, sehingga AS pun akhirnya memutuskan untuk mengembangkan versi serupa.
"Drone-drone ini telah terbukti sangat efektif. Saking efektifnya, AS kini mengembangkan versi miliknya sendiri," ujar Mulroy dikutip BBC News, Kamis (12/3/2026) melansir CNBC Indonesia.
Senjata tandingan AS tersebut diberi nama Lucas (Low-Cost Uncrewed Combat Attack System). Dalam beberapa hari terakhir, militer AS mulai mengerahkan skuadron Lucas di Timur Tengah untuk membalas serangan Iran dengan taktik yang sama.
Kepala Pasukan AS di Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa pihaknya telah mengadopsi teknologi Iran dan meningkatkannya untuk serangan balik. Pihaknya mengklaim teknologi tersebut kini justru berbalik mengancam Teheran.
"Kami telah mengambil desain Iran, membuatnya menjadi lebih baik, dan menembakkannya kembali tepat ke arah Iran," ungkap Cooper.
Taktik Fisik-Psikologis
Meskipun sistem pertahanan udara seperti di Uni Emirat Arab (UEA) berhasil menjatuhkan mayoritas drone yang datang, strategi Iran disebut bukan sekadar soal ledakan fisik. Pakar Iran dari think tank American Enterprise Institute, Nicholas Carl, menilai Iran sengaja memaksa AS dan sekutunya menguras stok rudal interseptor yang harganya jauh lebih mahal daripada drone yang mereka kirim.
Carl menambahkan bahwa ada motif psikologis di balik hujan drone tersebut. Teheran diduga ingin menciptakan teror di kota-kota padat penduduk guna menekan pemerintahan Trump agar segera menyepakati gencatan senjata.
"Rezim Iran juga mencoba untuk memaksakan teror dan tekanan psikologis terhadap AS dan mitra regionalnya guna mencoba memaksa Presiden Donald Trump melakukan kesepakatan gencatan senjata," jelas Carl.
Penurunan Drastis
Kendati demikian, intensitas serangan Iran dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan drastis. Laksamana Cooper melaporkan bahwa jumlah peluncuran drone Iran telah merosot hingga 83% sejak hari pertama pertempuran, sementara penggunaan rudal balistik turun hingga 90% akibat tekanan militer dari AS dan Israel.
Carl menilai bahwa Teheran kini mulai kesulitan mempertahankan ritme serangan mereka. Penurunan drastis ini mengindikasikan bahwa stok senjata Iran mungkin sudah mulai menipis akibat gempuran balik yang terus-menerus.
“Iran sedang berjuang untuk mempertahankan serangan rudal dan drone-nya, dan itu bisa menjadi lebih sulit dalam beberapa hari ke depan seiring tekanan militer AS dan Israel yang terus berlanjut," tutup Carl.
[Redaktur: Alpredo Gultom]