WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan memuncak di Timur Tengah saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan heran karena Iran tak kunjung “menyerah” meski Washington telah mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke kawasan tersebut.
Kabar itu diungkap utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, di tengah berlangsungnya perundingan lanjutan antara Washington dan Teheran di Jenewa, Swiss, yang menjadi upaya terakhir mencegah eskalasi konflik bersenjata.
Baca Juga:
AS dan Iran Kembali Berunding di Oman Usai Bom Nuklir dan Perang
Sebagai sinyal tekanan keras, Amerika Serikat telah mengirim dua kapal induk, jet tempur canggih, serta berbagai persenjataan berat ke Timur Tengah guna mempertegas peringatan terhadap pemerintah Iran.
“Dia penasaran mengapa mereka belum menyerah,” ujar Witkoff, sebagaimana dikutip dari AFP, Minggu (22/2/2026).
Dalam wawancara bersama Lara Trump di Fox News, Witkoff menjelaskan bahwa Trump terus memantau respons Teheran setelah sebelumnya melontarkan ancaman konsekuensi berat jika kesepakatan nuklir gagal dicapai.
Baca Juga:
F-35 AS Hancurkan Drone Iran, Ketegangan di Laut Arab Memuncak
“Saya tidak ingin menggunakan kata frustrasi, karena Trump mengerti bahwa ia memiliki banyak alternatif,” katanya.
Ia menambahkan bahwa di tengah tekanan militer yang begitu besar, Presiden AS mempertanyakan sikap Iran yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kompromi.
“Mengapa, di bawah tekanan ini, dengan jumlah kekuatan laut dan angkatan laut yang ada di sana, mengapa mereka tidak datang kepada kita dan berkata, ‘Kami menyatakan tidak menginginkan senjata, jadi inilah yang siap kami lakukan’?” sambungnya.
Meski demikian, Witkoff mengakui bahwa memaksa Iran hingga ke titik menyerah bukanlah perkara sederhana bagi Washington.
Di sisi lain, ia juga mengungkapkan telah bertemu dengan Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan di Amerika Serikat.
“Saya bertemu dengannya atas arahan presiden,” ungkap Witkoff.
Pertemuan tersebut, lanjutnya, berkaitan erat dengan arah kebijakan yang akan diambil Trump terhadap Iran.
“Saya pikir dia kuat untuk negaranya, peduli pada negaranya. Tapi ini akan berkaitan dengan kebijakan Presiden Trump,” tuturnya.
Pahlavi sendiri sebelumnya menyatakan kesiapannya memimpin Iran menuju sistem demokrasi sekuler dalam sebuah forum di Munich pekan lalu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut draf proposal kesepakatan dengan Washington akan rampung dalam beberapa hari ke depan, menandakan pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Sebelumnya, Trump memberi batas waktu paling lama 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan terkait sejumlah aspek program nuklirnya.
Di tengah perundingan yang masih berlangsung di Jenewa, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan bahwa Trump tidak akan berhasil menghancurkan negaranya.
Negara-negara Barat menuding Iran tengah berupaya mengembangkan senjata nuklir, namun tuduhan itu berulang kali dibantah oleh Teheran.
Di sisi lain, Iran berusaha menegosiasikan pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini menekan perekonomian nasional dan memicu gelombang protes anti-pemerintah pada Desember lalu.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]