“Tidak ada personel militer AS yang terluka dan tidak ada peralatan AS yang rusak dalam insiden ini,” kata Hawkins.
Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln diketahui dikerahkan ke Timur Tengah atas perintah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyusul ancamannya untuk menyerang Teheran jika Iran menolak berunding soal program nuklir.
Baca Juga:
AS Serang Kapal Narkoba di Pasifik, Tiga Tewas dalam Operasi Southern Spear
Langkah militer ini juga disebut sebagai respons atas demonstrasi berdarah di Iran sejak akhir Desember yang dilaporkan telah menewaskan ribuan orang.
Namun, penembakan drone tersebut justru terjadi di tengah situasi hubungan AS dan Iran yang mulai menunjukkan tanda pelunakan melalui dorongan dialog diplomatik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan telah menyatakan kesediaan membuka dialog dengan Amerika Serikat meski tetap memperingatkan bahwa setiap serangan dari Negeri Paman Sam akan dibalas dengan konsekuensi keras.
Baca Juga:
Vonis Berat 146 Tahun untuk Produser Hollywood Pembunuh Model Christy Giles
Selain insiden drone, beberapa jam setelahnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dilaporkan mengganggu sebuah kapal niaga berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz.
“Dua kapal IRGC dan sebuah drone Mohajer Iran mendekati M/V Stena Imperative dengan kecepatan tinggi serta mengancam akan menaiki dan menyita kapal tanker tersebut,” ujar Hawkins.
Kelompok manajemen risiko maritim Vanguard melaporkan kapal-kapal Iran sempat memerintahkan tanker tersebut untuk mematikan mesin dan bersiap dinaiki.