WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kekhawatiran terhadap potensi krisis kesehatan di Iran kian menguat seiring ancaman terganggunya pasokan alat dan layanan medis vital.
Situasi ini dipicu oleh kerusakan infrastruktur akibat serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat, yang terjadi sebelum pengumuman gencatan senjata yang kini diperpanjang pada pekan ini.
Baca Juga:
Fasilitas Medis Mulai Pulih, RSUD Langsa Aktifkan Lagi Sejumlah Ruangan Prioritas
“Pengumuman gencatan senjata awal bulan ini merupakan kabar baik. Namun, kenyataan di lapangan sangat berbeda,” kata Wakil Direktur Regional Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Cristhian Cortez Cardoza dilansir UN News.
Cardoza, yang menyampaikan pernyataannya dari Beirut usai melakukan kunjungan langsung ke Teheran, menekankan bahwa penghentian sementara konflik tidak serta-merta menghapus dampak yang telah ditimbulkan.
“Konsekuensi dari konflik intens akan terus dirasakan selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Baca Juga:
Kemenkes: 31 RS dan 156 Puskesmas di Sumatra Terdampak Banjir Bandang, Pelayanan Tetap Diupayakan
Data IFRC menunjukkan bahwa ratusan fasilitas kesehatan di berbagai wilayah Iran mengalami kerusakan, bahkan sebagian di antaranya hancur total.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelangsungan layanan kesehatan, termasuk keterbatasan alat-alat penting seperti mesin dialisis dan perangkat prostetik yang sangat dibutuhkan pasien.
Dalam keterangannya, Cardoza juga menyoroti kondisi industri medis dalam negeri.
Ia menyebutkan bahwa salah satu pabrik yang selama ini menyuplai sekitar 60 persen kebutuhan filter dialisis nasional kini hanya memiliki cadangan bahan baku yang cukup untuk mempertahankan produksi dalam tiga bulan ke depan.
“Dengan situasi tersebut, lembaga kemanusiaan menekankan perlunya perhatian dan dukungan internasional. Guna mencegah krisis kesehatan yang lebih luas di kawasan terdampak konflik,” kata Cardoza menambahkan.
Di sisi lain, kondisi kemanusiaan di Gaza juga masih berada dalam fase yang sangat memprihatinkan.
Kerusakan masif pada infrastruktur kesehatan, ditambah ancaman dari amunisi yang belum meledak, menjadi hambatan besar dalam proses pemulihan pascakonflik.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan di Gaza mengalami kerusakan, mulai dari tingkat ringan hingga kehancuran total.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh rumah sakit besar seperti Al Shifa, tetapi juga meluas hingga klinik kecil, apotek, serta laboratorium medis yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan masyarakat.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]