Ini kemudian akan memungkinkan pasukan Rusia untuk dengan mudah menaklukkan Kiev, ibu kota, dan menghancurkan pasukan Ukraina di timur dan selatan tanpa perlu memperoleh keunggulan udara.
Para ahli juga telah memberikan penjelasan yang cukup tentang ketidakhadiran Angkatan Udara Rusia di medan perang.
Baca Juga:
AS-Iran Akhiri Perang, Meski Selat Hormuz Siap Dibuka RI Beli Minyak dari Rusia
Sementara itu, pertahanan udara di Kiev dan kota-kota lain dalam kondisi yang baik, sehingga kondisi ini menempatkan Rusia pada posisi dilematis: menjatuhkan bom dari ketinggian tinggi, aman tapi mempertaruhkan korban sipil, atau terbang rendah dan berisiko ditembak jatuh.
Justin Bronk, seorang ahli penerbangan di RUSI, sebuah think tank Inggris, mengatakan dia mencurigai kemungkinan kurangnya amunisi yang dipandu dengan presisi (PGM) alias "bom pintar" yang tersedia untuk pilot Rusia.
Dalam beberapa kasus, seperti pesawat udara Rusia yang dihantam rudal panggul, seakan membenarkan dugaan Justin.
Baca Juga:
AS Bakar Rp1.245 Triliun untuk Senjata Nuklir, Angkanya Kalahkan Gabungan 8 Negara
Sebagai informasi, pesawat yang tidak dilengkapi dengan bom presisi kadang terpaksa harus menjatuhkan "bom bodoh" di ketinggian rendah demi menjaga akurasi serangan mereka.
Namun tindakan ini kadang harus dibayar mahal oleh sang pilot.
Terbang di ketinggian rendah membuat mereka masuk dalam jarak tembak rudal panggul anti pesawat.