Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia Lukanisman Awang Sauni mengatakan kepada parlemen bahwa masyarakat kini mulai merasa terbebani.
Gelombang Baru Kebencian
Baca Juga:
Tragedi di Tengah Laut, 250 Pengungsi Rohingya Hilang Saat Cari Perlindungan
Gelombang baru ujaran kebencian muncul pada Mei di platform media sosial milik Meta dan TikTok setelah beredar isu mengenai kebersihan yang dikaitkan dengan ritual penyembelihan hewan kurban oleh salah satu kelompok Rohingya.
Sebuah petisi daring yang mendesak pemerintah "mengusir" pengungsi Rohingya akhirnya dihapus pada Juni setelah kelompok HAM menyuarakan kekhawatiran. Namun sebelum dihapus, petisi tersebut telah mengumpulkan hampir 500.000 tanda tangan.
Baca Juga:
Trailer “Lost Land” Dirilis, Angkat Perjuangan Kakak-Adik Rohingya di Tengah Bahaya
Sharifah mengatakan situasi saat ini jauh lebih buruk dibanding masa pandemi. "Apa yang kami lihat sekarang seratus kali lebih buruk dibanding saat pandemi Covid," katanya.
Reuters menemukan sejumlah unggahan media sosial yang secara terbuka mendorong tindakan kekerasan terhadap pengungsi Rohingya, termasuk anak-anak. Salah satu topik di Threads bahkan menggunakan judul "Lempang Rohingya", sementara sejumlah influencer mengajak pengguna merekam permukiman Rohingya dan melaporkan lokasi mereka kepada aparat.
Meski sentimen negatif meningkat di media sosial, Menteri Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution Ismail pada Juni menegaskan pemerintah tidak dapat begitu saja mendeportasi para pengungsi.